Thursday, March 24, 2016

Psikoterapi "Terapi Holistik"

Terapi Humanistik Eksistensial


Salah satu bentuk dari Psikoterapi adalah Humanistik-eksistensial therapy, dimana metode terapi ini memusatkan perhatiannya pada pengalaman-pengalaman sadar, masa sekarang “di sini dan kini” – dan bukan masa lampau. Di masa lalu tidak terdapat bukti adanya minat yang serius terhadap aspek-aspek filosofis dari konseling dan psikoterapi. Pendekatan humanistik eksistensial-humanistik menekankan renungan-renungan filosofis tentang apa artinya menjadi manusia yang utuh.

Dalam penerapan-penerapan terapeutiknya, pendekatan eksistensial-humanistik memusatkan perhatian pada asumsi-asumsi filosofis yang melandasi terapi bagi orang-orang dalam hubungan dengan sesamanya yang menjadi ciri khas, kebutuhan yang unik dan menjadi tujuan terapinya, dan melalui implikasi-implikasi bagi usaha membantu individu dalam menghadapi pertanyaan-pertanyaan dasar yang menyangkut keberadaan manusia.


1. Konsep Utama Terapi Humanistik Eksistensial

  a. Kesadaran Diri

    Manusia memiliki kesanggupan untuk menyadari dirinya sendiri, dimana suatu kesanggupan yang unik dan nyata yang memungkinkan manusia mampu berfikir dan memutuskan. Semakin kuat kesadaran diri pada seseorang, maka akan semakin besar pula kebebasan yang ada pada orang itu.

 b. Kebebasan, Tanggung Jawab, dan Kecemasan

   Kesadaran atas kebebasan dan tanggung jawab bisa menimbulkan kecemasan yang menjadi atribut dasar pada manusia. Kecemasan ekstensial bisa diakibatkan atas keterbatasannya dan atas kemungkinan yang tak terhindarkan untuk mati (nonbeing). Kesadaran atas kematian memiliki arti penting bagi kehidupan individu sekarang, sebab kesasaran tersebut menghadapkan individu pada kenyataan bahwa dia memiliki waktu yang terbatas untuk mengaktualkan potensi-potensinya. Dosa ekstensial yang juga merupakan bagian kondisi manusia. Adalah akibat dari kegagalan individu untuk benar-benar menjadi sesuatu sesuai dengan kemampuannya.

  c. Penciptaan Makna

  Manusia itu unik dalam arti bahwa ia berusaha untuk menentukan tujuan hidup dan menciptakan nilai-nilai yang akan memberikan makna bagi kehidupan. Menjadi manusia juga berarti menghadapi kesendirian (manusia lahir sendirian dan mati sendirian pula). Walaupun pada hakikatnya sendirian, manusia memiliki kebutuhan untuk berhubungan dengan sesamanya dalam suatu cara yang bermakna, sebab manusia adalah mahluk rasional. Kegagalan dalam menciptakan hubungan yang bermakna bisa menimbulkan kondisi-kondisi isolasi dipersonalisasi, alineasi, kerasingan, dan kesepian. Manusia juga berusaha untuk mengaktualkan diri yakni mengungkapkan potensi-potensi manusiawinya. Sampai tarap tertentu, jika tidak mampu mengaktualkan diri, ia bisa menajdi “sakit”.


2. Tujuan Terapeutik dalam Terapi Humanistik Eksistensial

   Terapi humanistik eksistensial ini bertujuan untuk :

 a. Agar klien mengalami keberadaannya secara otentik dengan menjadi sadar atas keberadaan dan potensi-potensi secara sadar bahwa ia dapat membuka diri dan bertindak berdasarkan kemampuannya.

 b. Meluaskan kesadaran diri klien dan karenanya meningkatkan kesanggupan pilihannya, yakni menjadi bebas dan betanggung jawab atas arah hidupnya.

c. Membantu klien menghilangkan kecemasan-kecemasan sehubungan dengan tindakan memilih diri dan menerima kenyataan bahwa dirinya lebih dari sekedar korban kekuatan-kekuatan deterministik di luar dirinya.


3. Fungsi dan Peran Terapis dalam Terapi Humanistik Eksistensial

   Terapis dalam terapi humanistik eksistensial mempunyai tugas utama, yaitu berusaha untuk memahami klien sebagai sesuatu yang ada di dalam dunia ini. Dimana teknik yang digunakannya itu selalui mendahului suatu pemahaman yang mendalam terhadap kliennya. Prosedur yang digunakan bisa bervariasi, tidak hanya dari klien yang satu ke klien yang lainnya, tetapi juga dari satu ke lain fase terapi yang dijalani oleh klien yang sama.

  Menurut Buhler dan Allen, para ahli psikologi humanistik memiliki orientasi bersama yang mencakup hal-hal berikut :
   a. Mengakui pentingnya pendekatan dari pribadi ke pribadi ke pribadi.
  b. Menyadari peran dari tanggung jawab terapis.
  c. Mengakui sifat timbal balik dari hubungan terapeutik.
  d. Berorientasi pada pertumbuhan.
  e. Menekankan keharusan terapis terlibat dengan klien sebagai suatu pribadi yang menyeluruh.
  f. Mengakui bahwa putusan-putusan dan pilihan akhir terletak di tangan klien.
 g. Mengakui kebebasan klien untuk mengungkapkan pandangannya.
 h. Mengurangi kebergantungan dari klien terhadapnya.

4. Proses Klien Mencapai Kesembuhan dalam Terapi Humanistik Eksistensial

   Dalam terapi eksistensial, klien mampu mengalami secara subjektif persepsi-persepsi tentang dunianya. Dia harus aktif dalam proses terapeutik, karena dia harus memutuskan ketakutan-ketakutannya, perasaan-perasaan berdosa, dan kecemasan-kecemasannya. Dalam terapi ini klien terlibat dalam pembukaan pintu menuju diri sendiri, dengan membuka pintu yang tertutup, klien mulai melonggarkan belenggu deterministik yang telah menyebabkan dia terpenjara secara psikologis. Lambat laun klien menjadi sadar, apa dia tadinya dan siapa dia sekarang, serta klien lebih mampu menetapkan masa depan macam apa yang diinginkannya. Melalui proses terapi ini klien bisa mengeksplorasi alternatif-alternatif guna membuat pandangan-pandangannya menjadi real.

5. Tahap Pelaksanaan Terapi Humanistik Eksistensial

 a. Tahap pendahuluan

   Konselor mambantu klien dalam mengidentifikasi dan mnegklarifikasi asumsi mereka terhadap dunia. Klien diajak mendefinisikan cara pandang agar eksistensi mereka diterima. Konselor mengajarkan mereka bercemin pada eksistensial mereka dan meneliti peran mereka dalam hal penciptaan masalah dalam kehidupan mereka.

 b. Tahap pertengahan

    Klien didorong agar bersemangat untuk lebih dalam meneliti sumber dan otoritas dan sistem mereka. Semangat ini akan memberikan klien pemahaman baru dan restrukturisasi nilai dan sikap mereka untuk mencapai kehidupan yang lebih baik dan dianggap pantas.

 c. Tahap akhir

    Berfokus untuk bisa melaksanakan apa yang telah mereka pelajari tentang diri mereka. Klien didorong untuk mengaplikasikan nilai barunya dengan jalan yang kongkrit. Klien biasanya akan menemukan kekuatan untuk menjalani eksistensi kehidupannya yang memiliki tujuan. Dalam perspektif eksistensial, teknik sendiri dipandang alat untuk membuat klien sadar akan pilihan mereka, serta bertanggungjawab atas penggunaan kebebasan pribadinya.

6. Teknik-teknik dan Prosedur-prosedur Terapeutik dalam Terapi Humanistik Eksistensial

   Karena pendekatan humanistik-eksistensial ini tidak memiliki metodelogi, maka sulit mengemukakan langkah-langkah terapeutiknya yang khas, maka daripada itu para terapis eksistensial sering mengambil metode dan prosedur dari terapi gestalt, analisis transaksional, dan psikoanalisis yang diintegrasikan dalam pendekatan eksistensial. Seperti yang dikemukakan Bugental dalam model terapi psikoanalisa, konsep inti psikoanalisis tentang resistensi dan transfrensi bisa diterapkan pada filsafat dan praktek terapi eksistensial, ia menggunakan kerangka psikoanalitik untuk menerangkan fase kerja terapi yang berlandaskan konsep-konsep eksistensial seperti kesadaran, emansipasi dan kebebasan, kecemasan eksistensial, dan neurosis eksistensial.

  Metode dan prosedur yang digunakan dalam terapi eksistensial ini juga sangat bervariasi, tidak hanya dari pasien yang satu ke pasien yang lain, tetapi juga dari fase satu kefase yang lain pada pasien yang sama.

7. Kekurangan dan Kelebihan Terapi Humanistik-Ekstensial

 - Kelebihan

 a. Teknik ini dapat digunakan bagi klien yang mengalami kekurangan dalam perkembangan          dan kepercayaan diri.
b. Adanya kebebasan klien untuk mengambil keputusan sendiri.
c. Memanusiakan manusia.
d. Bersifat pembentukan kepribadian, hati nurani, perubahan sikap, analisis terhadap fenomena     sosial.
e. Pendekatan terapi eksistensial lebih cocok digunakan pada perkembangan klien seperti masalah karier, kegagalan dalam perkawinan, pengucilan dalam pergaulan ataupun masa transisi dalam perkembangan dari remaja menjadi dewasa.

- Kelemahan

a. Dalam metodologi, bahasa dan konsepnya yang mistikal.
b. Dalam pelaksanaannya tidak memiliki teknik yang tegas.
c. Terlalu percaya pada kemampuan klien dalam mengatasi masalahnya (keputusan ditentukan      oleh klien sendiri).
e. Memakan waktu lama.


Daftar Pustaka

Semiun. Yustinus, OFM. 2006. Kesehatan mental 3. Yogyakarta : Kanisius.
Corey, Gerald. 2009. Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi. Bandung: Refika Aditama.
Misiak, henryk.2005.psikologi fenomenologi,eksistensial dan humanistic. Bandung: PT Rafika 
   aditama.
Semiun,Yustinus.(2006). Kesehatan mental 3. Kanisius: Yogyakarta

Wednesday, March 16, 2016

Psikoterapi "Transpersonal"

Pengertian Psikologi Transpersonal

Noesjirwan (2000) mendefinisikan Psikologi Transpersonal diartikan sebagai suatu studi terhadap potensi tertinggi umat manusia dan dengan pengakuan, pemahaman dan perealisasian keadaan-keadaan kesadaran yang mempersatukan antara spiritual dan transenden. Sutich (dalam Noesjirwan, 2000) mengartikan psikologi transpersonal adalah nama yang diberikan kepada kekuatan yang baru timbul dalam bidang psikologi, dibentuk oleh sejumlah psikolog, ahli-ahli pria dan wanita dari bidang lain yang mempunyai perhatian terhadap kemampuan-kemampuan dan kesanggupan-kesanggupan tertinggi manusia yang selama ini tidak dipelajari secara sistematis oleh psikologi perilaku atau teori-teori psikoanalisis yang klasik maupun yang oleh psikologi humanistik. Psikologi transpersonal secara khusus memberikan perhatian kepada studi ilmiah yang empiris dan kepada implementasi yang bertanggung jawab dari penemuan-penemuan yang relevan bagi pengaktualisasian diri, transendentasi diri, kesadaran kosmis, fenomena-fenomena transendental yang terjadi pada (atau dialami oleh) perorangan-perorangan atau sekelompok orang.

Secara harafiah kata transpersonal berasal dari kata trans yang artinya melewati, dan kata personal yang artinya pribadi. Transpersonal dalam banyak literatur berarti melewati atau melalui “topeng”, dengan kata lain melewati tingkat personal. Psikologi transpersonal berdiri pada pertemuan antara psikologi modern dengan spiritualisme. Selain itu psikologi transpersonal dianggap sebagai kekuatan keempat setelah psikoanalisa, Behaviorisme, dan Humanistik. Sementara dengan makin berkembangnya psikologi transpersonal, spiritualisme baik dari filsafat timur maupun dari agama-agama monoteisme mulai menarik untuk dikaji. Sedangkan menurut Friedman & Pappas (2006) berpendapat bahwa psikologi transpesonal dibangun dari perspektif psikologis yang berbeda, yang pada umumnya memandang psikologi sebagai suatu yang berguna namun tidak lengkap dan terbatas. Bahkan termasuk pulan pendekatan psikologi yang lain, seperti kearifan beragam budaya berkaitan dengan psikopatologi dan kesehatan mental, serta beragam keadaan kesadaran (state of consciousness).

Psikologi traspersonal bukanlah seperangkat kepercayaan, dogma atau agama, namun merupakan suatu upaya untuk membawa tingkatan pengalaman manusia sepenuhnya menuju wacana dalam psikologi. Dalam psikologi transpersonal, sebagaimana pendekatan psikologis lainnya, pemisahan terhadap self  dipandang sebagai suatu hasil dari sejarah pribadi dan dicirikan oleh suatu kemandirian dan pemisahan dari hal-hal yang mengelilinginya. Pendekatan transpersonal berbeda dengan pendekatan-pendekatan yang lain, yang pada umumnya hanya menjelaskan keadaan-keadaan transedensi diri yang sempit. Transedensi diri (self transedence) dalam psikologi transpersonal mengacu pada keadaan kesadaran (states of consciousness) dimana self berkembang melewati batas-batas wajar, identifikasi-identifikasi, dan citra diri dari kepribadian individu serta merefleksikan suatu koneksi fundamental, harmoni, atau kesatuan dengan orang lain dan dunia (Walsh dan Vaughan, 1993 dalam Prabowo, 2007).


Pandangan Pskologi Transpersonal tentang Manusia

Obyek psikologi pada garis besarnya hanya seputar psikofisik manusia, psikokognitif dan psikohumanistik manusia. Kecenderungan penggalian terhadap dimensi transpersonal dari pribadi yang “terdalam” dalam diri manusia kurang atau bahkan tidak mendapat porsi dalam kajian psikologi pada umumnya. Golemen ( 2000) decade tahun 80-an mengenal secara popular istilah EQ (Emotional Question). Dan pada decade 2000 muncul istilah SQ (spiritual Question) yang dikenalkan oleh Ramachandran dan Ian Marshal (Agustian, 2003). Maka psikologi transpersonal sebenarnya ingin melihat potensi manusia secara utuh, menyeluruh dan menggali potensi manusia yang terdalam, salah satunya adalah Spiritual Question (SQ).


Obyek Kajian Psikologi Transpersonal

Noesjirwan (2000) menyebutkan obyek psikologi transpersonal sedikitnya memuat antara lain sebagai berikut:
  1. Keadaan –keadaan kesadaran
  2. Potensi-potensi tertinggi atau terakhir
  3. Melewati ego atau pribadi ( trans-ego)
  4. Transendensi dan
  5. Spiritual



Daftar Pustaka

Mujidin. (2005). Garis  Besar Psikologi Trasnpersonal: Pandangan Tentang Manusia dan      
      Metode Penggalian Transpersonal Serta Aplikasinya Dalam Dunia Pendidikan. Jurnal 
      Psikologi, Vol. 2, No. 1. 54-64
http://wardalisa.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/files/26407/Materi+12+-+PsikologiTimur.pdf

Tuesday, January 12, 2016

Review Jurnal Job Enrichment

Judul                        : Kepuasan Kerja, Semangat Kerja dan Komitmen 
                                     Organisasi Pengajar Universitas Gunadarma
Jurnal                      : Psikologi
Penulis                    : Ursa Majorsy
Volume                   : Volume 1, Nomor 1, Desember 2007
Tahun                     : 2007


 Latar Belakang

Tujuan dari perguruan tinggi merupakan tujuan orang-orang yang terlibat dalam aktivitas perguruan tinggi hingga menciptakan kondisi yang saling menguntungkan antara tujuan personal dengan tujuan organisasi. Salah satu individu yang  terlibat dalam aktivitas perguruan tinggi adalah staf pengajar atau dosen.

       Menurut Arcaro (dalam Yulianti 2001) keberhasilan lembaga perguruan tinggi ditentukan oleh peran staf pengajar (dosen) dalam melaksanakan proses belajar mengajar. Agar proses belajar mengajar dapat terlaksana dengan baik diharapkan staf pengajar memiliki keterikatan psikologis terhadap organisasi maupun pekerjaanya. Keterikatan antara staf pengajar dengan organisasi dan pekerjaannya disebut dengan komitmen organisasional.

Menurut Robbins (1996) komitmen organisasional didefinisikan sebagai suatu keadaan dimana seorang karyawan memihak pada suatu organisasi tertentu serta berniat memelihara keanggotaannya dalam organisasi tersebut. Bagi seorang staf pengajar, komitmen terhadap pekerjaan dan organisasi dapat ditunjukkan dengan seberapa tinggi tingkat keterlibatan staf pengajar yang bersangkutan terhadap profesi yang dijalaninya. Komitmen yang tinggi diperkirakan akan membuat staf pengajar tetap hadir, aktif dan bertahan di perguruan tinggi tempat dimana ia bekerja. Kurangnya komitmen staf pengajar terhadap organisasi dapat dilihat dari tingkat keluar pekerjaan (turn over). Komponen komitmen organisasional yang digunakan dalam penelitian ini mengacu pada teori Meyer dan Allen (1997) yang mengemukakan tiga komponen dalam komitmen organisasional, yaitu komitmen afektif, komitmen kontinuan dan komitmen normatif.

               Menurut Hornby (dalam Neliwati 2008) kepuasan kerja adalah suatu keadaan dalam diri seseorang yang merasa puas, lega dan senang karena situasi dan kondisi kerja yang dapat memenuhi kebutuhan, keinginan dan harapannya. Oleh karena itu, apabila seseorang telah menemukan rasa puas terhadap hasil kerjanya maka diasumsikan individu tersebut akan memiliki komitmen yang tinggi terhadap pekerjaannya. Sebaliknya, menurunnya rasa puas dalam diri seseorang terhadap pekerjaan akan menurunkan keterikatan individu dengan pekerjaannya.  Selain kepuasan kerja, salah satu faktor yang diperkirakan dapat mempengaruhi komitmen staf pengajar terhadap organisasinya adalah semangat kerja.

            Menurut Nitisemito (1996) perusahaan atau instansi akan mendapat banyak keuntungan bila setiap individu yang bekerja didalamnya memiliki semangat atau kegairahan kerja yang tinggi. Semangat kerja yang tinggi biasanya akan dapat dilihat dari kesediaan individu untuk bekerja dengan sepenuh hati. Semangat kerja yang baik menurut Moekijat (1989) dapat dihubungkan dengan motif dan hasil kerja yang baik. Sedangkan semangat kerja yang rendah biasanya dihubungkan dengan kekecewaan, keengganan, kekurangan akan dorongan serta hasil kerja yang kurang baik. Sebab turunnya semangat kerja banyak sekali di antaranya bisa jadi karena upah yang terlalu rendah, insentif yang kurang terarah, serta lingkungan kerja yang buruk. Turunnya semangat kerja yang dimiliki seseorang akan berdampak pada keterlibatannya terhadap pekerjaan dan organisasinya.

            Sementara itu menurut Maier (1995) terdapat empat aspek semangat kerja, yaitu kegairahan atau antusiasme, kualitas untuk bertahan, kekuatan untuk melawan frustasi serta semangat berkelompok. Di dalam Undang-Undang Republik Indonesia No. 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen menyebutkan bahwa profesi dosen memiliki komitmen untuk meningkatkan mutu pendidikan dan bertanggung jawab atas pelaksanaan tugas keprofesionalannya. Dari hal tersebut dapat disimpulkan bahwa salah satu karakteristik dosen atau staf pengajar yang berkualitas adalah memiliki komitmen terhadap pekerjaan dan organisasinya. Adapun hal yang menjadi fokus dalam penelitian ini adalah komitmen dosen atau staf pengajar terhadap organisasinya yaitu perguruan tinggi.



   Metode Penelitian

Subjek dalam penelitian ini adalah 65 orang staf pengajar Universitas Gunadarma, berjenis kelamin laki-laki maupun perempuan. Teknik sampling yang digunakan untuk memperoleh subjek penelitian adalah purposive sampling, yaitu pemilihan sekelompok subjek berdasarkan ciri-ciri atau sifat-sifat tertentu yang berhubungan erat dengan tujuan penelitian (Hadi, 2004). Subjek penelitian diperoleh dari beberapa bagian unit kerja yang ada di Universitas Gunadarma, yang berlokasi di kampus D, E dan G. Subjek penelitian yang diambil mewakili dari seluruh fakultas, yaitu fakultas ilmu komputer, teknologi industri, ekonomi, teknik sipil dan perencanaan, psikologi serta sastra. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan metode kuesioner atau angket. Kuesioner terdiri dari daftar isian identitas subjek serta skala kepuasan kerja, skala semangat kerja dan skala komitmen organisasional. 

Untuk uji validitas dan reliabilitas alat pengumpul data serta analisis data, perhitungannya dilakukan dengan bantuan program SPSS Ver 12.0. Uji validitas item pada penelitian ini menggunakan teknik korelasi product moment Pearson. Uji reliabilitas instrumen menggunakan teknik Alpha Cronbach. Sedangkan teknik analisis data yang digunakan adalah analisis regresi ganda (multiple regression).



 Hasil dan Pembahasan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa komitmen organisasional dapat dijelaskan oleh variabel kepuasan kerja dan semangat kerja. Kedua variabel tersebut memiliki pengaruh secara bersama-sama sebesar 52.8% terhadap komitmen organisasional. Sedangkan secara terpisah diketahui bahwa kepuasan kerja memiliki pengaruh sebesar 13.5% terhadap komitmen organisasional dan semangat kerja memiliki pengaruh sebesar 51.3% terhadap komitmen organisasional. Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa ketiga komponen dalam komitmen organisasional, yaitu komitmen afektif, komitmen kontinuan dan komitmen normatif memiliki pengaruh yang sedang pada staf pengajar.



 Kesimpulan

Berdasarkan penjelasan sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa komitmen organisasional dapat dijelaskan oleh variabel kepuasan kerja dan semangat kerja. Kedua variabel tersebut memiliki pengaruh secara bersama-sama sebesar 52.8% terhadap komitmen organisasional. Sedangkan secara terpisah diketahui bahwa kepuasan kerja memiliki pengaruh sebesar 13.5% terhadap komitmen organisasional dan semangat kerja memiliki pengaruh sebesar 51.3% terhadap komitmen organisasional. Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa ketiga komponen dalam komitmen organisasional, yaitu komitmen afektif, komitmen kontinuan dan komitmen normatif memiliki pengaruh yang sedang pada staf pengajar.




SARAN


        Berdasarkan uraian dan hasil penelitian yang telah dilakukan, ada baiknya mencoba menggali sebab-sebab lain yang berpengaruh terhadap komitmen organisasional seperti pemberian kompensasi, motivasi, kondisi kerja, prestasi, komunikasi interpersonal, stres kerja atau tuntutan kerja, agar dapat diperoleh hasil penelitian yang lebih komprehensif.


Daftar Pustaka


Majorsy Ursa. (2007). Kepuasan Kerja, Semangat Kerja dan
       Komitmen Organisasi Pengajar Universitas Gunadarma. Jurnal Psikologi, Vol.1, No.1

Analisis Film "Jobs" (Motivasi) dan Teori Motivasi

DEFINISI MOTIVASI


  1. Malayu, menjelaskan bahwa motivasi diambil dari kata latin yaitu movere yang artinya dorongan atau pemberian daya penggerak yang dapat menciptakan suatu kegairahan kerja seseorang agar mereka mau bekerja efektif, bekerjasama dan terintegrasi dengan segala upaya untuk mencapai sebuah kepuasan.
  2. Edwin B. Flippo, disebutkan bahwa motivasi merupakan suatu keahlian dalam mengarahkan seorang pegawai & sebuah organisasi agar dapat bekerja supaya berhasil, hingga para pegawai dan tujuan dari organisasi tersebut tercapai. 
  • TEORI-TEORI MOTIVASI
  1. Teori Drive Teori ini bisa diuraikan sebagai “teori-teori dorongan tentang motivasi” adalah perilaku di dorong ke arah tujuan oleh keadaan-keadaan yang mendorong dalam diri seseorang atau binatang. Contoh yang dikemukkan oleh Sigmud Freud bahwa kepribadian manusia terdiri dari bawaan atau dalam kelahiran, dorongan seksual dan agresif atau drive. Jadi teori motivasi dapat dikatakan terdiri dari :
a. Suatu keadaan yang mendorong
  1. Perilaku mengarah ke tujuan yang di ilhami oleh keadaan terdorong
  2. Pencapaian tujuan yang memadai
  3. Pengurangan keadaan terdorong, kepuasaan subjektif, dan kelegaan ketika tercapai.
  1. Teori-teori insentif
Teori insentif adalah kebalikan dari teori drive, teori insentif adalah teori-teori dorongan tentang motivasi karena ciri-ciri tertentu yang mereka miliki, objek tujuan mendorong perilaku kearah tujuan tersebut. Objek objek tujuan yang memotivasi perilaku disebut sebagai insentif. Salah satu bagian pentinng dari banyak teori insentif adalah bahwa individu-individu mengharapkan kesenangan dari pencapaian dari apa yang mereka sebut insentif positif dan dari penghindaran dari apa yang disebut insentif negatif. Dalam dunia kerja, motivasi nampaknya lebih merupakan masalah insentif yang diharapkan seperti gaji, bonus, vakansi dan sejenisnya daripad dorongan dan penggangguran dorongan itu.
Film "Jobs"
Siapa yang tidak mengenal Steve Jobs, CEO dari Apple ini meninggal pada tahun 2011 kemarin. Film ini berkisah tentang biografi Steve Jobs, bagaimana Steve Jobs mengembangkan Apple, presentasi Steve Jobs sampai produk pertama Apple. 

   "Musuh terbesarmu adalah dirimu sendiri," ujar Mike Markkula (Dermot Mulroney) kepada Steve Jobs (Ashton Kutcher). Menurut investor besar pertama yang percaya dengan perusahaan Apple itu, Steve adalah sosok revolusioner, sekaligus monster yang terbentuk karena ego. 

            Sutradara Joshua Michael Stern membuka filmnya dengan produk inovasi Jobs yang mengubah industri, dan menjadikan Apple sebagai salah satu perusahaan terbesar di dunia. Penonton kemudian dibawa ke 1974 saat Steve Jobs berada di Reed College. Steve bukan mahasiswa pada umumnya. Dia tidak mengikuti kelas-kelas, berpakaian rapi, ataupun berpesta dengan gila. Ia lebih suka menenteng buku ke lingkungan kampus tanpa alas kaki, dan tertidur di salah satu sudut kampus. 

            Baginya, mengikuti perkuliahan adalah kegiatan yang tidak berguna, tak lebih dari sekadar memburu status sosial lewat gelar dan berakhir sebagai tukang listrik. Namun, salah satu dosen berpengaruh di kampus tersebut masih memperbolehkan Steve mengikuti kelas yang dia mau, meskipun sudah drop out. Steve Jobs juga digambarkan melewati fase kehidupan masa mudanya dengan mempelajari kaligrafi, perjalanan spiritual ke India, hingga melayang dengan mengkonsumsi LSD. Film kemudian bergulir pada 1976 ketika Steve Jobs tinggal bersama orangtua angkatnya di California, dan bekerja pada perusahaan Atari yang fokus pada pembuatan game. Ia kemudian mengerjakan proyek bersama teman masa kecilnya Steve Wozniak (Josh Gad) berupa personal computer dengan nama The Apple 1. Dari situ, perjalanan Steve Jobs dalam mengubah industri penggunaan komputer dimulai.  'Jobs' tak hanya memperlihatkan sosok Steve Jobs yang dipuja-puja sebagai inovator. Kepeduliannya pada detail dan ambisinya dalam setiap proyek yang dikerjakan mengikis sisi humanis dalam dirinya. Steve Jobs tak peduli dengan kekasihnya yang hamil. Bukan hanya tak mengakui janin yang dikandung sang pacar, ia juga mengusir wanita malang itu dari rumah. 


            Jobs tak peduli apabila ia selalu parkir di tempat yang disediakan untuk penyandang cacat. Ia juga tidak memiliki empati sedikit pun saat memutuskan bahwa teman-temannya yang terlibat dalam proyek Apple 2 tidak layak mendapat jatah saham di perusahaan. "Dia itu brengsek," ucap beberapa orang di lingkungan Steve Jobs. Ya, dan dia memang digambarkan dengan perilaku seperti itu. Bagaimana ambisi dan ego tak hanya bisa mengubah pribadi seseorang, tetapi juga menjadi musuh terbesarnya sendiri. Ashton Kutcher menunjukkan penampilan bagus yang membuat penonton membenci sosok Steve Jobs secara pribadi, sekaligus kagum dengan kemauan besarnya dalam merevolusi industri. Meskipun telah diet buah hingga dilarikan ke rumah sakit, Ashton masih terlihat terlalu bugar dan keren bagi karakter yang digambarkan Wozniak, merujuk pada golongan geek. Namun, cara jalannya yang agak "jinjit" bolehlah menarik sedikit perhatian.

            Steve Jobs sudah berpulang sekitar 4 tahun lalu, tepatnya pada 5 Oktober 2011. Walaupun begitu, dunia masih terinspirasi oleh sosoknya. Salah satu poin yang membuat Steve Jobs menginspirasi adalah cara berpikir yang unik dan kata-kata yang dia ucapkan, sangat filosofis dan mendalam. Dengan hal itulah ia diteladani oleh banyak orang di dunia.
Berikut ini adalah kutipan-kutipan dari Steve Jobs yang sering kita dengar dan baca di media. Namun, bisa jadi sebagiannya lagi belum pernah Anda dengar. Tidak hanya quote, penjelasannya akan coba kami berikan supaya lebih memperkuat pemahaman Anda.

"Desain bukan hanya tentang seperti apa sesuatu terlihat atau dirasakan. Desain adalah soal bagaimana sesuatu bekerja"

Steve Jobs begitu terobsesi dengan desain. Ia benar-benar ingin menciptakan sesuatu dengan desain yang bagus. Oleh karena itulah, ia sangat menghargai Jonathan Ive . Dalam film Jobs (2013), Ive berkata saat ia bertemu Jobs pertama kali, "Kamu lihat, desain komputer saat ini begitu mengerikan. Mengapa kita tidak membuatnya menjadi menarik?"
Dalam buku Inside Steve's Brain karya Leander Kahney ditulis, bagi Jobs desain bukan hanya soal tampilan belaka, tapi tentang cara bekerjanya suatu hal. Semakin sederhana, semakin baiklah desainnya. Misalnya, jika kita ingin menyalin data musik favorit kita dari komputer ke MP3 player, bagaimana caranya? Perangkat MP3 lain biasanya begini: nyalakan alat, colokkan ke port USB komputer, cari folder musik kemudian copy, lalu paste ke MP3 player kita.
Kahney menulis, Jobs mendeskripsikan cara bekerja iPod dengan tiga kalimat, "nyalakan, colokkan,wurrr...selesai". Lebih sederhana dari MP3 player lain. Jobs mendesak karyawannya untuk membuat produk Apple sesederhana mungkin hingga "setiap orang bisa memakainya tanpa panduan pakai sekalipun".


"Tetaplah lapar. Tetaplah merasa bodoh".

Kata-kata ini ia sampaikan pada 2005 di acara kelulusan Stanford University. Artinya kurang lebih, teruslah belajar dalam kehidupan ini. Jangan pernah berhenti belajar, sebab ketika kita berhenti belajar, ketika itulah kita berhenti bertumbuh. Saat kita berhenti bertumbuh, itulah tanda-tanda kita akan gagal. Orang-orang sukses justru adalah orang-orang yang tidak pernah berhenti belajar.

Di dunia ini, menurut ThoughtfulLearning, ada dua macam mindset, yakni fixed mindset dan growth mindset. Fixed mindset adalah pola pikir yang menyatakan, kecerdasan dan bakat sudah ada sejak lahir. Pola pikir seperti ini membuat seseorang menerima begitu saja nasibnya dan tidak memiliki hasrat untuk berubah.
Sedangkan growth mindset adalah pola pikir yang berpendapat, kecerdasan dan bakat dapat berkembang maupun berkurang. Pola pikir ini dapat membuat seseorang bersemangat untuk berubah, sebab bila tidak berubah, ia sadar kecerdasannya akan berkurang. "Stay hungry. Stay foolish" adalah ajakan Steve Jobs supaya kita memiliki growth mindset.


"Dipecat dari Apple adalah hal terbaik yang pernah terjadi pada saya. Beban berat sebagai orang sukses tergantikan oleh keleluasaan sebagai pemula, di mana segala sesuatunya kurang meyakinkan"

Steve Jobs pernah dipecat oleh dewan direksi Apple karena visinya terlalu ambisius. Padahal Apple adalah perusahaan yang dia buat sendiri beserta Steve Wozniak. Steve merasa terpuruk waktu itu, tetapi ia segera bangkit. Ia mendirikan NeXT Computer, perusahaan pengembang perangkat lunak. Setelah itu, ia mendirikan Pixar, studio animasi legendaris yang menciptakan Toy Story dan film-film lain. Ia mengubah bagaimana film animasi bekerja.
Steve Jobs tampaknya mampu melihat sesuatu dengan sudut pandang positif di tengah situasi terburuk sekalipun. Menurut penelitian Forbes, sikap itu adalah salah satu sikap yang harus dikuasai seorang pemimpin.

"Kami membuat tombol di layar (produk kami) sedemikian cantiknya sehingga Anda ingin menjilat mereka"

Steve Jobs begitu mencintai desain. Produk-produk Apple memiliki tampilan sederhana, fokus, bersih, dan cantik -termasuk tombolnya. Hal ini membuat orang-orang merasa senang dan keren. Ada pameo di dunia bisnis modern, yakni "good design good business". Tampaknya Steve Jobs benar-benar mencoba mempraktekkan hal tersebut.

Analisis Film Invictus (Leadership)

Sekilas, memang kata "Invictus" terdengan sangat sederhana. Namun sesungguhnya, Invictus memiliki arti yang sangat dalam yaitu tidak terkalahkan. Film ini mengajarkan tentang bagaimana seorang Nelson Mandela yang telah dibebaskan dari sebuah penjara di rhode Island, sebuah pulau terpencil di bagian selatan Afrika, selama kurang lebih 27 tahun. Nelson "Madiba" Mandela merupakan seorang aktivis yang turut memperjuangkan hak-hak orang kulit hitam di Afrika dan berusaha untuk menghapuskan politik apartheid, Politik warna kulit di Afrika. Madiba berusaha untuk menghapuskan segala-sesuatu yang berhubungan dengan diskriminasi tanpa melalui jalur kekerasan. Namun usaha yang ia lakukan justru membuat ia ditangkap dan dipenjara karena tindakannya yang dianggap radikal dan dapat mempengaruhi banyak orang. 

                 Dalam film ini, ditunjukkan bahwa Nelson Mandela adalah sosok yang luar biasa dan memilki pengaruh yang kuat terhadap orang-orang disekitarnya. Ia berusaha untuk membangun Republik Afrika selatan setelah ia terpilih sebagai presiden pertama negara tersebut. Madiba, begitulah panggilan akrabnya, menyatukan seluruh rakyat yang pada saat itu baru saja mengalami berbagai macam krisis dan keadaan yang memprihatinkan. Trauma masa lalu akan perbedaan warna kulit yang mereka alami belum juga hilang hingga bertahun-tahun. Sebagai seorang pemimpin, Nelson Mandera membangun negara tersebut dari nol dengan cara yang sangat sederhana. Pola pikir mandela memang berbeda dengan pemimpin pada umumnya. Pendekatan yang ia lakukan bukanlah menggumbar janji, namum menyatukan rakyat melalui olahraga rugby. Nelson Mandela mengetahui bahwa melalui sebuah olahraga, rakyat dapat bersatu dan semangat juang dapat dikibarkan. 

                   Lalu, apa yang dapat kita pelajari dari Nelson Mandela? Jelas bahwa jiwa kepemiminan yang dimiliki oleh Nelson Mandela belum tentu dapat dimiliki semua orang. Nelson Mandela memiliki jalan pikiran yang sederhana namun ia dapat dengan mudah memahami masyarakatnya. Nelson Mandela memiliki gaya kepemimpinan yang membuatnya dapat dihormati oleh banyak orang karena kepribadiannya yang jujur, terbuka, dan rendah hati. Ia yang awalnya dilempari botol plastik pada saat menonton pertandingan pertama tim rugby Afrika Seatan oleh sebagian besar orang kulit putih, membalasnya hanya dengan senyuman. Itulah perbuatan dan contoh seorang pemimpin yang baik. Pemimpin yang baik ialah mereka yang dapat memberikan contoh dan sejak saat itulah Nelson Mandela menjadi seseorang yang memiliki jabatan tinggi dan sangat dihargai. 

                    Seperti yang telah saya jelaskan sebelumnya, setiap pemimpin memiliki gaya kepemimpinan yang berbeda-beda. Dalam kasus ini, Nelson Mandela memiliki gaya kepemimpinan dimana ia berusaha memotivasi orang-orang di sekitarnya, karena ia percaya bahwa mereka dapat membawa pengaruh yang besar. Dalam film Invictus, dijelaskan bahwa Nelson Mandela sering berbagi cerita mengenai pengalamannya selama di Penjara dan selama 27 tahun itulah banyak pemikiran yang ia kembangkan sehingga Nelson Mandela memiliki filosofi yang baik dalam membimbing rakyatnya. 

Friday, January 8, 2016

Review Jurnal Kepuasan Kerja Kelompok "Bunga Dahlia"

Judul                                     : Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kepuasan Kerja 
                                                   Pegawai Pada Pegawai Dinas Luar Asuransi Jiwa 
                                                   Bersama Bumiputera 1912 Cabang Setiabudi Medan
                                               
Jurnal                                    : Jurnal Manajemen Bisnis Universitas Sumatera Utara

Penulis                                  : Yulinda & Sri Wulan Harlyanti

Volume dan Halaman     : Volume 2, Nomor 1, Januari 2009: 25 – 32


Tahun                                   : 2009



        I.            Latar Belakang 

Kepuasan kerja karyawan dipengaruhi oleh banyak factor, menurut teori kepuasan kerja yang dikemukakan oleh Frederick Herzberg (dalam Luthans, 2006) mengemukakan Teori Dua Faktor yaitu faktor motivator dan faktor hygiene. Faktor motivator berhubungan dengan aspek-aspek yang terkandung dalam pekerjaan itu sendiri (job content) atau disebut juga sebagai aspek intrinsik dalam pekerjaan sedangkan faktor hygiene yaitu faktor yang berada di sekitar pelaksanaan pekerjaan, berhubungan dengan job context atau aspek ekstrinsik pekerja.

Proses untuk membuat karyawan merasakan puas dalam bekerja, pihak pimpinan perusahaan harus memastikan bahwa faktor hygiene telah memadai seperti gaji, keamanan dan kondisi kerja aman serta hubungan rekan kerja dan atasan baik. Pimpinan yang menyediakan faktor-faktor hygiene secara memadai belum sepenuh merangsang motivasi karyawan tetapi hanya memastikan karyawan tidak merasakan ketidakpuasan atau berada pada titik nol landasan motivasi. Untuk itu pihak pimpinan harus menyediakan faktor penggerak motivator (intrinsik) kepada karyawan seperti prestasi, pengakuan, tanggung jawab dan pengembangan kesempatan untuk maju. Bila hal ini mendapat perhatian dari perusahaan akan memberikan tingkat kepuasan yang tinggi (Griffin, 2006). Dampak kepuasan kerja cenderung terpusat pada kinerja karyawan, tingkat kehadiran, dan tingkat keluar masuknya karyawan (turnover). Organisasi dengan karyawan yang lebih puas cenderung memiliki kinerja dan tingkat kehadiran yang lebih tinggi serta turnover yang lebih rendah dibandingkan dengan organisasi yang memiliki karyawan yang kurang puas (Robbins, 2006).

Perusahaan Asuransi Jiwa Bersama Bumiputera 1912 merupakan perusahaan asuransi nasional yang tertua di Indonesia yang menghadapi berbagai rintangan / tantangan dari perusahaan asuransi yang bermodal besar, asuransi patungan, asuransi nasional dan asuransi milik negara. Hal ini tentunya berdampak pada asuransi lokal yang bermodal kecil, yang tak punya daya saing. AJB Bumiputera 1912 memiliki kekuatan yang unik pada pemilikan yaitu mutual life artinya pemegang polis adalah pemegang saham, Oleh sebab itu agen harus bekerja keras dengan sungguhan dan penuh tanggung jawab, trampil dan diperjaya sehingga mampu memberikan pelayanan terbaik pada pemegang polis. Agen memiliki kinerja yang berkaitan dengan tingkat kemampuan untuk mencapai target yang ditetapkan perusahaan.

         I.            Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi kepuasan kerja pada pegawai dinas luar Asuransi Jiwa Bersama (AJB) Bumiputera Cabang Setiabudi.

         I.            Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode sensus untuk melakukan penarikan sampel yaitu seluruh anggota populasi dimasukkan menjadi sampel, karena jumlah populasi yang relatif kecil (Sugiyono, 2005). Teknik pengumpulan data untuk penelitian ini menggunakan wawancara dan kuisioner yang disebar kepada para agen Asuransi Jiwa Bersama (AJB) Bumiputera 1912 Cabang Medan Setidabudi yang berjumlah 30 orang yang merupakan sampel jenuh.

       II.            Hasil dan Diskusi Penelitian

Pengujian hipotesis dimaksudkan untuk melihat pengaruh variabel bebas faktor motivator dan faktor hygiene dengan variabel terikat kepuasan kerja. Dalam penelitian ini pengujian dilakukan dengan metode enter. Diketahui bahwa faktor motivator dan faktor hygiene merupakan variabel bebas yang digunakan sedangkan variabel terikatnya adalah kepuasan kerja.

     III.            Kesimpulan

Variabel faktor motivator dan faktor hygiene berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepuasan kerja pegawai dinas luar Asuransi Jiwa Bersama (AJB) Bumiputera 1912 Cabang Setiabudi, Medan berdasarkan hasil uji F (serempak) dan uji t (parsial). Faktor yang paling dominan mempengaruhi kepuasan kerja pegawai dinas luar Asuransi Jiwa Bersama (AJB) Bumiputera 1912 Cabang Setiabudi Medan adalah faktor motivator.

Daftar Pustaka

         Harlyanti Wulan, Yulinda. (2009).  Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kepuasan
                       Kerja Pegawai Pada Pegawai Dinas Luar Asuransi Jiwa Bersama 
                      Bumiputera 1912 Cabang Setiabudi Medan. Jurnal Manajemen Bisnis, 
                     Vol. 2, No. 1. 25-32