BEHAVIOUR THERAPY
1.
Konsep Utama
Terapi perilaku (behavior therapy) dan pengubahan
perilaku (behavior modification) atau pendekatan behavioristik
dalam psikoterapi, adalah salah satu dari beberapa “revolusi” dalam dunia
pengetahuan psikologi, khususnya psikoterapi. Pendekatan behavioristik ini
banyak dipergunakan dalam rangka melakukan kegiatan psikoterapi yang bersumber
pada aliran behaviorisme. Aliran ini pada awalnya tumbuh di Amerika dengan
tokoh pelopornya yaitu John Broadus Watson. Behaviorisme merupakan suatu aliran
yang menitikberatkan peranan lingkungan, peranan dunia luar sebagai faktor
penting dimana seseorang dipengaruhi, seseorang belajar. Aliran ini memandang
perkembangan seseorang sebagai “seseorang tumbuh menjadi seperti apa yang
terbentuk oleh lingkungan” (“man grows to be what he is made to be by his
environtment”). Munculnya aliran ini berasal dari orientasi
pemikiran filsafat pada abad-abad yang lalu.
Pendekatan behavioristik tidak menguraikan asumsi-asumsi filosofis tertentu
tentang manusia secara langsung. Setiap orang dipandang memiliki
kecenderungan-kecenderungan positif dan negatif yang sama. Manusia pada
dasarnya dibentuk dan ditentukan oleh lingkungan sosial budayanya, tingkah laku
manusia itu dipelajari. Jadi, behaviorisme berfokus pada bagaimana orang-orang
belajar dan kondisi-kondisi apa saja yang menentukan tingkah laku individu.
2.
Terapi Perilaku
Sebagai salah satu teknik psikoterapi, terapi perilaku relatif masih sangat
muda, baru dipergunakan sekitar 30 tahun yang lalu. Di dalam perkembangannya,
terapi peilaku sebagai metode yang dipakai untuk mengubah perilaku atau dalam
arti umumnya sebagai salah satu dari teknik psikoterapi, menurut Corey (1991)
terdiri dari tiga tahap:
a. Tahap pertama adalah tahap kondisioning klasik (Classical
Conditioning)
Yaitu perilaku yang
baru dihasilkan dari individu secara pasif. Tokohnya adalah Pavlov, A. Lazarus
dan Eysenck.
b. Tahap kedua adalah tahap kondisioning aktif (Operant
Conditioning)
Dimana
perubahan-perubahan di lingkungan terjadi akibat sesuatu perilaku, bisa
berfungsi sebagai penguat-ulang (reinforce) agar perilaku bisa
terus diperlihatkan, sehingga perilaku tersebut akan semakin menguat. Tokohnya
adalah Skinner.
c.
Tahap ketiga adalah tahap kognitif.
Awalnya terapi perilaku mengesampingkan tentang konsep
berpikir, konsep sikap, dan konsep nilai. Namun, terjadi perubahan pada sekitar
tahun 70-an ketika peranan berpikir (kognisi) diperhatikan dan ikut berperan
baik dalam proses pemahaman maupun perlakuan terhadap pasien.
3. Teknik-Teknik Utama Terapi Tingkah Laku
a.
Desentisisasi Sistematik
Desentisisasi sistematik diperkenalkan secara resmi oleh Wolpe pada sekitar
tahun 1958, namun dasar klinisnya sebenarnya berakar dari penelitian yang
dilakukan oleh Mary Cover Jones pada tahun 1924. Desentisisasi sistematik
adalah salah satu teknik yang paling luas digunakan dalam terapi tingkah laku.
Desentisisasi sistematik digunakan untuk menghapus tingkah laku yang diperkuat
secara negatif, dan ia menyertakan pemunculan tingkah laku atau respons yang
berlawanan dengan tingkah laku yang hendak dihapuskan itu. Desentisisasi
sistematik juga melibatkan teknik-teknik relaksasi. Klien dilatih untuk santai
dan mengasosiasikan keadaan santai dengan pengalaman-pengalaman pembangkit
kecemasan yang dibayangkan atau yang divisualisasi. Situasi-situasi dihadirkan
dalam suatu rangkaian dari yang sangat tidak mengancam ke yang sangat
mengancam. Desentisisasi sistematik adalah teknik yang cocok untuk menangani
fobia-fobia. Teknik ini bisa diterapkan secara efektif pada situasi penghasil
kecemasan, mencakup situasi interpersonal, ketakutan menghadapi ujian,
ketakutan-ketakutan yang digeneralisasi, kecemasan-kecemasan neurotik, serta
impotensi dan frigiditas seksual.
b. Terapi
Implosif dan Pembanjiran
Teknik ini terdiri atas pemunculan stimulus berkondisi secara berulang-ulang
tanpa pemberian penguatan. Teknik ini tidak menggunakan pengkondisian balik
maupun tingkatan kecemasan. Terapis memunculkan stimulus-stimulus penghasil
kecemasan, klien membayangkan situasi, dan terapis berusaha mempertahankan
kecemasan klien. Stampfl (1975) mengembangkan teknik yang berhubungan dengan
teknik pembanjiran yang disebut “terapi impolsif”. Terapi impolsif berasumsi
bahwa tingkah laku neurotik melibatkan penghindaran terkondisi atas
stimulus-stimulus penghasil kecemasan. Alasan yang digunakan oleh teknik ini
adalah bahwa jika seseorang secara berulang-ulang dihadapkan pada suatu situasi
penghasil kecemasan dan konsekuensi yang menakutkan tidak muncul, maka kecemasan
akan tereduksi atau terhapus.
c. Latihan
Asertif
Pendekatan behavioral yang dengan cepat mencapai popularitas adalah latihan
asertif yang bisa diterapkan terutama pada situasi-situasi interpersonal dimana
individu mengalami kesulitan untuk menerima kenyataan bahwa menyatakan atau
menegaskan diri adalah tindakan yang layak atau benar. Latihan asertif akan
membantu bagi orang-orang yang tidak mampu mengungkapkan kemarahan atau
perasaan tersinggung, menunjukkan kesopanan dan selalu mendorong orang lain
untuk mendahuluinya, memiliki kesulitan untuk mengatakan “tidak”, mengalami
kesulitan untuk mengungkapkan afeksi dan respons-respons positif lainnya,
merasa tidak punya hak untuk memiliki perasaan-perasaan dan pikiran-pikiran
sendiri. Fokus latihan asertif adalah mempraktekkan, melalui permainan peran,
kecakapan-kecakapan bergaul yang baru diperoleh sehingga individu diharapkan
mampu mengatasi ketidakmemadaiannya dan belajar bagaimana mengungkapkan
perasaan-perasaan dan pikiran-pikiran individu secara lebih terbuka disertai
keyakinan bahwa individu berhak untuk menunjukkan reaksi yang terbuka.
d. Terapi
Aversi
Teknik-teknik aversi adalah metode-metode yang paling kontroversial yang
dimiliki oleh para behavioris meskipun digunakan secara luas sebagai
metode-metode untuk membawa orang-orang kepada tingkah laku yang diinginkan.
Kondisi-kondisi diciptakan sehingga orang-orang melakukan apa yang diharapkan
dari individu dalam rangka menghindari konsekuensi-konsekuensi aversif. Sebagian
lembaga sosial menggunakan prosedur-prosedur aversif untuk mengendalikan para
anggotanya dan untuk membentuk tingkah laku individu agar sesuai dengan yang
telah digariskan. Dalam setting yang lebih formal, teknik-teknik
aversif sering digunakan dalam penanganan berbagai tingkah laku yang
maladaptif.
e. Peniruan Melalui Penokohan (Modelling)
Penggunaan teknik penokohan dalam terapi perilaku telah dimulai pada akhir
tahun 50-an, meliputi tokoh yang nyata, tokoh yang dilihat melalui film atau
tokoh dalam imajinasi (imajiner). Tokoh yang telah banyak melakukan penelitian
mengenai proses dan prosedur peniruan adalah Albert Bandura yang terkenal
dengan social learning theory.
Penokohan merupakan istilah umum untuk menunjukkan terjadinya proses belajar
melalui pengamatan dari orang lain dan perubahan yang terjadi karenanya melalui
peniruan. Teknik peniruan melalui penokohan, dapat dipakai untuk menghadapi
pasien atau klien yang menderita fobia, penderita ketergantungan obat dan
alkohol, bahkan dapat dipakai untuk menghadapi penderita dengan gangguan
kepribadian yang berat seperti psikosis, khususnya agar memperoleh keterampilan
untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
f. Pengondisian
Operan
Tingkah laku operan adalah tingkah laku yang memancar yang menjadi ciri
organisme aktif. Tingkah laku operan merupakan tingkah laku yang paling berarti
dalam kehidupan sehari-hari. Menurut Skinner (1971), jika tingkah laku diganjar
maka probabilitas kemunculan kembali tingkah laku tersebut di masa mendatang
akan tinggi. Prinsip perkuatan yang menerangkan pembentukan, pemeliharaan, atau
penghapusan pola-pola tingkah laku merupakan inti dari pengondisian operan.
4.
Tujuan Terapi Behaviour
Tujuan umum terapi tingkah laku adalah untuk menciptakan kondisi-kondisi baru
bagi proses belajar, penghapusan hasil belajar yang tidak adaptif, memberi
pengalaman belajar yang adaptif namun belum dipelajari, membantu klien membuang
respons-respons lama yang merusak diri atau maladaptif dan mempelajari respons-respons
yang baru yang lebih sehat dan sesuai. Dasar alasannya ialah bahwa segenap
tingkah laku adalah dipelajari (learned) termasuk tingkah laku
yang maladaptif.
5.
Peranan Konselor
Peran konselor dalam konseling behavioral adalah aktif, direktif, dan
menggunakan pengetahuan ilmiah untuk menemukan solusi dari persoalan individu.
Konselor behavioral biasanya berfungsi sebagai guru, pengarah, dan para ahli
yang mendiagnosa tingkah laku yang maladaptif dan menentukan prosedur yang
mengatasi persoalan tingkah laku individu. Dalam proses konseling, konseli yang
menentukan tingkah laku apa (what) yang akan diubah, sedangkan
konselor menentukan cara apa yang digunakan untuk mengubahnya. Selain itu,
konselor juga sebagai model bagi kliennya. Bandura mengatakan bahwa sebagian
besar proses belajar terjadi melalui pengalaman langsung yang didapat melalui
observasi langsung terhadap tingkah laku orang lain. Ia berpendapat bahwa dasar
fundamental proses belajar tingkah laku adalah imitasi, dengan demikian, konselor
adalah model signifikan bagi kliennya.
Daftar Pustaka
Corey, Gerald. (2005). Teori
dan Praktek Konseling dan Psikoterapi. Bandung: PT. Refika Aditama.
Gunarsa,
Singgih D. (2012). Konseling
dan Psikoterapi. Jakarta: Libri.
Jones,
N.R. (2011). Teori
dan Praktik Konseling dan Terapi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Khairani,
Makmun. (2014). Psikologi
Konseling. Yogyakarta: CV. Aswaja Pressindo.