Setelah kejadian itu Eri menjadi sosok baru dalam
kehidupan Kuro. Mereka selalu bersama, dimana ada Kuro disitu ada Eri, begitu
juga sebaliknya. Ternyata Eri sudah tahu tentang Kuro, ia sering mengamati Kuro
dari kejauhan. Eri juga berada di sebuah komunitas yang sama dengan Kuro, yaitu
kesenian. Di dalam komunitas itu banyak sekali orang-orang yang berbakat dalam
bidang seni, ada yang bakat dalam bidang melukis, musik, menulis, dan masih
banyak lagi. Komunitas ini memiliki basecamp,
tempat yang selalu menjadi ajang mereka berkumpul.
Atap adalah tempat favorit Kuro. Dia suka menyendiri
di sini dan menyetel musik klasik, dan terkadang ia juga menyendiri di ruang
auditorium dan memainkan lagu-lagu klasik dengan pianonya. Semenjak hadirnya
Eri dalam hidup Kuro, itu tidak langsung mengubah Kuro. Ia masih agak sedikit introvert, karena ia masih trauma dengan
masa lalunya. Tetapi Eri tetap berada di sisi Kuro, dia ingin lebih mengenal
Kuro, dia tak ingin melihat Kuro terpuruk seperti dulu lagi. Hingga pada suatu
hari Kuro mulai ingin sedikit terbuka kepada Eri, temannya itu. Ia ingin
mencoba mempercayai seseorang untuk sekali lagi, dan ia berharap Eri tidak
mengecewakannya.
Sore itu Kuro berjalan ke arah ruang auditorium,
lagi-lagi ia ingin menyendiri di ruang itu seolah-olah ingin berlari dari dunia
ini. Sesampainya di sana Kuro segera memainkan lagu klasik yang berjudul “Sometimes Someone.” Ia memainkan lagu
itu dengan penuh perasaan, seolah-olah dia masuk ke dalam lagu itu. Itu
merupakan salah satu lagu favorit Kuro. Tanpa ia sadari, saat itu Eri sedang
mendengarkan permainan piano Kuro dari balik pintu auditorium. Lagi-lagi Eri
tahu kalau Kuro suka menyendiri di ruang auditorium selain di atap. Eri
mengerti makna dari lagu yang Kuro mainkan. Lagu ini sungguh mencurahkan isi
hati Kuro. Ketika Kuro selesai memainkan lagu itu, seketika itu juga Eri masuk
ke dalam ruangan itu.
“Kamu hebat ya, permainan pianomu sungguh hebat. Lagu
yang kamu mainkan juga bagus, sangat menyentuh,” ucap Eri.
“Ah, tidak juga. Biasa aja kok, kamu tau dari mana aku
ada di sini?”
“Aku hanya menebak. Lagi pula kebetulan aku tadi
sedang jalan-jalan di sekitar sini,” jawab Eri.
“Kamu bohong, kamu pasti mengamatiku kan selama ini?”
tanya Kuro dengan mimik muka yg datar.
“Maaf kalau kamu terganggu dengan kehadiranku, maaf
kalau selama ini aku mengamatimu. Tapi itu semua aku lakukan karena aku ingin
menjadi temanmu, kamu tidak ingat dengan apa yang pernah ku katakan kepadamu?
Aku mau menjadi temanmu, Kuro. Aku tidak ingin melihatmu menjalani semua ini
sendirian….”
Mendengar perkataan dari Eri, sejenak Kuro terdiam. Ia
merenungkan kata-kata dari Eri, “Aku tidak ingin melihatmu menjalani semua ini
sendirian,” itu kata-kata Eri yang selalu muncul di benak Kuro. Kuro berusaha
memahami perkataan Eri, ia sebenarnya ingin Eri menjadi temannya tapi di satu
sisi, ia masih teringat dengan masa lalunya, masa dimana ia begitu terluka
dengan tindakan teman-temannya. Kuro benar-benar berada dalam pergumulan saat
itu, hati dan otaknya sedang berperang.
“Jangan keraskan hatimu…” dengan halus Eri
mengatakannya kepada Kuro.
Bersamaan dengan itu Eri memegang kedua tangan Kuro,
“Kamu berhak untuk mendapatkan teman yang bisa mengerti keadaanmu..” lagi-lagi
Eri mengatakannya dengan suara yang halus bak suara malaikat yang seolah-olah
ingin melunakkan hati Kuro.
Kuro benar-benar terdiam dibuat Eri, perkataan Eri
seolah-olah seperti sihir. Kuro terdiam cukup lama dan selama itu juga Eri
masih megenggam erat tangan Kuro, berusaha untuk meyakinkan Kuro.
Kemudian Kuro segera melepaskan tangannya dari Eri.
“Sebenarnya aku senang kamu ingin menjadi temanku. Aku
senang ternyata masih ada yang peduli denganku, tapi aku takut. Masa lalu itu
masih terbayang di pikiranku, mereka terus menghantuiku. Aku hanya tidak ingin
semua itu terulang lagi, aku tidak mau menambah luka di dalam hatiku,” jawab
Kuro berusaha menjelaskan.
“Masa lalu memang sulit untuk dilupakan, tapi semua
orang pasti bisa untuk lepas dari itu. Tergantung bagaimana orang itu mau lepas
dari masa lalunya atau tidak. Kita semua tau cara untuk lepas dari masa lalu, tapi
terkadang kita yang tidak mau berusaha untuk lepas dari itu. Kamu bisa Kuro,
jangan hanya andalkan kemampuanmu, tapi turut sertakan Tuhan dalam kehidupanmu.
Dia punya otoritas yang sangat besar dalam kehidupanmu, dan Dia peduli
denganmu, lebih dari apa yang kamu bayangkan. Ketika semua orang menjauhimu,
ada satu pribadi yang tetap setia bersamamu, tapi kamu tidak menyadarinya
karena kamu sibuk memikirkan mereka yang menjauhimu. Tuhan selalu setia
bersamamu, dan aku juga akan menjadi temanmu yang selalu siap mendengar seluruh
ceritamu…” lagi-lagi Eri berusaha meyakinkan dan memberi semangat kepada Kuro.
Lagi-lagi perkataan Eri seolah-olah mengetuk pintu
hati Kuro, ia benar-benar membisu, diam seribu bahasa dibuatnya. Suasana di
ruangan itu sungguh penuh dengan kesedihan akan bayangan masa lalu. Haru biru,
semuanya hening, sampai suara jarum jam pun dapat terdengar oleh mereka berdua.
Kuro memejamkan matanya untuk sesaat, ia kembali
berusaha merenungkan perkataan Eri. Melihat itu, Eri segera berjalan menuju ke
piano dan segera memainkan piano itu. Menurutnya, alunan dari piano bisa membawa
aura positif untuk Kuro.
Kuro membiarkan musik mengalir, membawa Kuro masuk
jauh ke dalam alam bawah sadarnya. Di alam bawah sadar inilah tersimpan apa
yang sebenarnya Kuro inginkan.
Kuro melihat ada 2 pintu di dalam alam bawah sadarnya
itu, pintu yang terbuat dari kayu usang dan pintu yang terbuat dari kayu yang
masih baru. Tentu saja dilihat dari teksturnya, pintu yang terbuat dari kayu
usang itu sudah lama sekali, bertahun-tahun dan mungkin sudah digerogoti rayap.
Kemudian Kuro berjalan ke arah pintu yang usang itu, entah apa yang dipikirkan
oleh Kuro sehingga ia memilih pintu itu. Ketika ia membuka pintu itu, ia
melihat gambaran dirinya di masa lalu yang penuh dengan luka dan goresan. Betapa
pilunya ia di masa lalu, dan selama ini gambaran yang seperti itu yang terus
menghantui Kuro… ya, ketakutan yang sungguh hebat telah menghantuinya selama
ini. Melihat itu semua, Kuro akhirnya sadar bahwa selama ini ia sudah tinggal
di dalam masa lalunya yang penuh luka dan goresan itu. Ternyata keputusannya
untuk memilih pintu yang usang itu benar. Pintu yang usang itu menunjukkan masa
lalu Kuro dan pintu yang kayunya masih baru itu tentu saja menunjukkan masa
depannya. Masa depan yang ia belum tahu akhirnya nanti akan seperti apa, oleh
karena itu ia sama sekali tidak tertarik untuk memilih pintu itu.
Akhirnya Kuro pun membuka kedua matanya dan seketika
itu juga permainan piano Eri selesai.
“Eri….” panggil Kuro dengan halus.
“Ya..?”
“Aku mengerti maksudmu sekarang. Kamu benar, semua
orang bisa lepas dari masa lalunya tergantung dari kemauan dan usaha dari orang
itu sendiri, dan aku yakin sekarang aku bisa lepas dari masa laluku. Aku ingin
memulai hidup yang baru, yang tak akan pernah melirik ke belakang lagi. Thank you so much Eri, kamu sangat
membantu sekali. Aku harap kita bisa menjadi teman baik ya,” seraya berkata
demikian Kuro mengulurkan tangannya sebagai tanda persahabatan mereka.
Kemudian Eri pun mengulurkan tangannya sebagai tanda
ia ingin menjadi teman Kuro.
“Aha! Itu yang ingin aku dengar dari mulutmu, akhirnya
aku mendengarnya juga!” sahut Eri dengan penuh semangat dan senyum di wajahnya.
“Oke, mulai sekarang kita teman ya!” lanjut Eri dengan
nada gembira.
“Kamu kelihatannya senang sekali ya,” dengan tawa
kecil di wajah Kuro.
Melihat Kuro tertawa, Eri pun kaget campur gembira
dibuatnya.
“Whoaaaaa!!! Kamu barusan tertawa, ya meskipun tertawa
kecil. Setidaknya aku bisa melihatmu tertawa sekarang!”
Kuro hanya tersenyum gembira mendengar perkataan Eri.
Hari itu seolah-olah menjadi akhir dari masa lalu Kuro. Ia sudah mengubur masa
lalunya itu dalam-dalam dan ia siap untuk melihat indahnya hari esok bersama
seorang teman barunya, yaitu Eri. Eriumi Kawaguchi.