Tuesday, August 26, 2014

Teman Baru

Setelah kejadian itu Eri menjadi sosok baru dalam kehidupan Kuro. Mereka selalu bersama, dimana ada Kuro disitu ada Eri, begitu juga sebaliknya. Ternyata Eri sudah tahu tentang Kuro, ia sering mengamati Kuro dari kejauhan. Eri juga berada di sebuah komunitas yang sama dengan Kuro, yaitu kesenian. Di dalam komunitas itu banyak sekali orang-orang yang berbakat dalam bidang seni, ada yang bakat dalam bidang melukis, musik, menulis, dan masih banyak lagi. Komunitas ini memiliki basecamp, tempat yang selalu menjadi ajang mereka berkumpul.

Atap adalah tempat favorit Kuro. Dia suka menyendiri di sini dan menyetel musik klasik, dan terkadang ia juga menyendiri di ruang auditorium dan memainkan lagu-lagu klasik dengan pianonya. Semenjak hadirnya Eri dalam hidup Kuro, itu tidak langsung mengubah Kuro. Ia masih agak sedikit introvert, karena ia masih trauma dengan masa lalunya. Tetapi Eri tetap berada di sisi Kuro, dia ingin lebih mengenal Kuro, dia tak ingin melihat Kuro terpuruk seperti dulu lagi. Hingga pada suatu hari Kuro mulai ingin sedikit terbuka kepada Eri, temannya itu. Ia ingin mencoba mempercayai seseorang untuk sekali lagi, dan ia berharap Eri tidak mengecewakannya.

Sore itu Kuro berjalan ke arah ruang auditorium, lagi-lagi ia ingin menyendiri di ruang itu seolah-olah ingin berlari dari dunia ini. Sesampainya di sana Kuro segera memainkan lagu klasik yang berjudul “Sometimes Someone.” Ia memainkan lagu itu dengan penuh perasaan, seolah-olah dia masuk ke dalam lagu itu. Itu merupakan salah satu lagu favorit Kuro. Tanpa ia sadari, saat itu Eri sedang mendengarkan permainan piano Kuro dari balik pintu auditorium. Lagi-lagi Eri tahu kalau Kuro suka menyendiri di ruang auditorium selain di atap. Eri mengerti makna dari lagu yang Kuro mainkan. Lagu ini sungguh mencurahkan isi hati Kuro. Ketika Kuro selesai memainkan lagu itu, seketika itu juga Eri masuk ke dalam ruangan itu.

“Kamu hebat ya, permainan pianomu sungguh hebat. Lagu yang kamu mainkan juga bagus, sangat menyentuh,” ucap Eri.

“Ah, tidak juga. Biasa aja kok, kamu tau dari mana aku ada di sini?”

“Aku hanya menebak. Lagi pula kebetulan aku tadi sedang jalan-jalan di sekitar sini,” jawab Eri.

“Kamu bohong, kamu pasti mengamatiku kan selama ini?” tanya Kuro dengan mimik muka yg datar.

“Maaf kalau kamu terganggu dengan kehadiranku, maaf kalau selama ini aku mengamatimu. Tapi itu semua aku lakukan karena aku ingin menjadi temanmu, kamu tidak ingat dengan apa yang pernah ku katakan kepadamu? Aku mau menjadi temanmu, Kuro. Aku tidak ingin melihatmu menjalani semua ini sendirian….”

Mendengar perkataan dari Eri, sejenak Kuro terdiam. Ia merenungkan kata-kata dari Eri, “Aku tidak ingin melihatmu menjalani semua ini sendirian,” itu kata-kata Eri yang selalu muncul di benak Kuro. Kuro berusaha memahami perkataan Eri, ia sebenarnya ingin Eri menjadi temannya tapi di satu sisi, ia masih teringat dengan masa lalunya, masa dimana ia begitu terluka dengan tindakan teman-temannya. Kuro benar-benar berada dalam pergumulan saat itu, hati dan otaknya sedang berperang.

“Jangan keraskan hatimu…” dengan halus Eri mengatakannya kepada Kuro.

Bersamaan dengan itu Eri memegang kedua tangan Kuro, “Kamu berhak untuk mendapatkan teman yang bisa mengerti keadaanmu..” lagi-lagi Eri mengatakannya dengan suara yang halus bak suara malaikat yang seolah-olah ingin melunakkan hati Kuro.

Kuro benar-benar terdiam dibuat Eri, perkataan Eri seolah-olah seperti sihir. Kuro terdiam cukup lama dan selama itu juga Eri masih megenggam erat tangan Kuro, berusaha untuk meyakinkan Kuro.

Kemudian Kuro segera melepaskan tangannya dari Eri.

“Sebenarnya aku senang kamu ingin menjadi temanku. Aku senang ternyata masih ada yang peduli denganku, tapi aku takut. Masa lalu itu masih terbayang di pikiranku, mereka terus menghantuiku. Aku hanya tidak ingin semua itu terulang lagi, aku tidak mau menambah luka di dalam hatiku,” jawab Kuro berusaha menjelaskan.

“Masa lalu memang sulit untuk dilupakan, tapi semua orang pasti bisa untuk lepas dari itu. Tergantung bagaimana orang itu mau lepas dari masa lalunya atau tidak. Kita semua tau cara untuk lepas dari masa lalu, tapi terkadang kita yang tidak mau berusaha untuk lepas dari itu. Kamu bisa Kuro, jangan hanya andalkan kemampuanmu, tapi turut sertakan Tuhan dalam kehidupanmu. Dia punya otoritas yang sangat besar dalam kehidupanmu, dan Dia peduli denganmu, lebih dari apa yang kamu bayangkan. Ketika semua orang menjauhimu, ada satu pribadi yang tetap setia bersamamu, tapi kamu tidak menyadarinya karena kamu sibuk memikirkan mereka yang menjauhimu. Tuhan selalu setia bersamamu, dan aku juga akan menjadi temanmu yang selalu siap mendengar seluruh ceritamu…” lagi-lagi Eri berusaha meyakinkan dan memberi semangat kepada Kuro.

Lagi-lagi perkataan Eri seolah-olah mengetuk pintu hati Kuro, ia benar-benar membisu, diam seribu bahasa dibuatnya. Suasana di ruangan itu sungguh penuh dengan kesedihan akan bayangan masa lalu. Haru biru, semuanya hening, sampai suara jarum jam pun dapat terdengar oleh mereka berdua.

Kuro memejamkan matanya untuk sesaat, ia kembali berusaha merenungkan perkataan Eri. Melihat itu, Eri segera berjalan menuju ke piano dan segera memainkan piano itu. Menurutnya, alunan dari piano bisa membawa aura positif untuk Kuro.

Kuro membiarkan musik mengalir, membawa Kuro masuk jauh ke dalam alam bawah sadarnya. Di alam bawah sadar inilah tersimpan apa yang sebenarnya Kuro inginkan.

Kuro melihat ada 2 pintu di dalam alam bawah sadarnya itu, pintu yang terbuat dari kayu usang dan pintu yang terbuat dari kayu yang masih baru. Tentu saja dilihat dari teksturnya, pintu yang terbuat dari kayu usang itu sudah lama sekali, bertahun-tahun dan mungkin sudah digerogoti rayap. Kemudian Kuro berjalan ke arah pintu yang usang itu, entah apa yang dipikirkan oleh Kuro sehingga ia memilih pintu itu. Ketika ia membuka pintu itu, ia melihat gambaran dirinya di masa lalu yang penuh dengan luka dan goresan. Betapa pilunya ia di masa lalu, dan selama ini gambaran yang seperti itu yang terus menghantui Kuro… ya, ketakutan yang sungguh hebat telah menghantuinya selama ini. Melihat itu semua, Kuro akhirnya sadar bahwa selama ini ia sudah tinggal di dalam masa lalunya yang penuh luka dan goresan itu. Ternyata keputusannya untuk memilih pintu yang usang itu benar. Pintu yang usang itu menunjukkan masa lalu Kuro dan pintu yang kayunya masih baru itu tentu saja menunjukkan masa depannya. Masa depan yang ia belum tahu akhirnya nanti akan seperti apa, oleh karena itu ia sama sekali tidak tertarik untuk memilih pintu itu.

Akhirnya Kuro pun membuka kedua matanya dan seketika itu juga permainan piano Eri selesai.

“Eri….” panggil Kuro dengan halus.

“Ya..?”

“Aku mengerti maksudmu sekarang. Kamu benar, semua orang bisa lepas dari masa lalunya tergantung dari kemauan dan usaha dari orang itu sendiri, dan aku yakin sekarang aku bisa lepas dari masa laluku. Aku ingin memulai hidup yang baru, yang tak akan pernah melirik ke belakang lagi. Thank you so much Eri, kamu sangat membantu sekali. Aku harap kita bisa menjadi teman baik ya,” seraya berkata demikian Kuro mengulurkan tangannya sebagai tanda persahabatan mereka.

Kemudian Eri pun mengulurkan tangannya sebagai tanda ia ingin menjadi teman Kuro.

“Aha! Itu yang ingin aku dengar dari mulutmu, akhirnya aku mendengarnya juga!” sahut Eri dengan penuh semangat dan senyum di wajahnya.

“Oke, mulai sekarang kita teman ya!” lanjut Eri dengan nada gembira.

“Kamu kelihatannya senang sekali ya,” dengan tawa kecil di wajah Kuro.

Melihat Kuro tertawa, Eri pun kaget campur gembira dibuatnya.

“Whoaaaaa!!! Kamu barusan tertawa, ya meskipun tertawa kecil. Setidaknya aku bisa melihatmu tertawa sekarang!”


Kuro hanya tersenyum gembira mendengar perkataan Eri. Hari itu seolah-olah menjadi akhir dari masa lalu Kuro. Ia sudah mengubur masa lalunya itu dalam-dalam dan ia siap untuk melihat indahnya hari esok bersama seorang teman barunya, yaitu Eri. Eriumi Kawaguchi.

Thursday, August 14, 2014

Hujan

Tahun pun berganti, tahun ini Kuro tetap menyukai wanita itu, wanita yang telah menyakiti hatinya. Hari demi hari ia lalui dengan kesedihan dan kemurungan, tiada lagi tawa yang nampak di raut wajahnya. Sesekali orang di sekitarnya membuat sebuah lelucon, tapi wajahnya tetap menunjukkan kesedihan. Ia seakan tidak peduli terhadap lingkungannya, tak hanya kepada lingkungan, ia juga nampak tidak peduli terhadap dirinya sendiri. Kuro sungguh sudah kehilangan semangat, entah sampai kapan ia akan tetap seperti ini.

Tahun ini nampaknya hujan membanjiri kota ini, tak peduli musim kemarau atau hujan, awan tetap menurunkan hujan ke tanah ini sama seperti Kuro yang jauh kedalaman hatinya sedang dibanjiri oleh “hujan” yang tak kunjung berhenti. Suatu hari ada kejadian yang membuat Kuro berubah, ya berubah, berubah menjadi lebih buruk. Insting dia ternyata benar, bahwa wanita yang telah menyakiti hatinya itu sekarang sudah memiliki kekasih lagi. Tetapi, yang membuat Kuro menjadi lebih buruk bukanlah karena wanita itu sudah memiliki kekasih lagi, ia hanya kecewa dengan apa yang diucapkan oleh wanita itu kepadanya. Apa yang wanita itu ucapkan berbeda dengan kenyataannya. Satu sisi Kuro senang wanita itu sudah mendapat kekasih lagi, tapi di sisi lain ia begitu hancur. Kuro semakin tidak peduli dengan keadaannya, mungkin teman-temannya pun tidak ada yang tau kabar tentang Kuro, dia bagaikan hilang ditelan bumi.

Hari berganti hari, raut wajah Kuro tetap sama, datar, dan seperti menunjukkan kesedihan yang mendalam. Tak ada seorang pun yang tahu isi hati Kuro, ia juga tak mau membagikan kesedihannya ini karena ia tahu tidak akan ada yang peduli dan dapat menolongnya. Pikiran Kuro sungguh sudah tak karuan, ia sudah tidak bisa berpikir jernih lagi. Ada suatu quote yang mengejutkan ia, “No one cares, they’re just pretending.” Ia diam tersentak ketika membaca quote itu. Ia seolah-olah percaya akan kata-kata itu.

“Benar juga ya, toh aku sekarang sedang mengalaminya. Memang benar-benar semua orang itu hanya pura-pura,” kata Kuro dalam hatinya.

Kuro semakin yakin bahwa di dunia ini semua orang hanyalah berpura-pura, ia bahkan berpikir demikian mengenai teman-temannya. Kesepian dan kesendirian kerap kali menyelimuti Kuro, ia lebih suka menyendiri dari pada berada di tengah-tengah temannya, karena ia merasa meskipun ia berada di tengah-tengah keramaian ia tetap merasakan kesepian dan bahkan itu lebih parah. Ia tidak merasakan sukacita, yang ia rasakan adalah kegalapan dan kesepian yang teramat dalam. Kuro bagaikan seorang manusia yang berada di kegelapan, duduk menyendiri di sebuah sudut ruangan. Ia mau teriak, sungguh ingin berteriak, tapi tidak bisa. Semua kata yang keluar dari mulutnya nampak sia-sia, bahkan ia terlihat seperti tidak bisa mendengar apapun bahkan suaranya sekalipun. Semua tampak membisu. Kuro benar-benar sudah kehilangan arah. Sesaat Kuro membayangkan ia sedang berada di depan cermin. Ia melihat dirinya di cermin tersebut, ya ia melihat betapa hancur dirinya. Seketika itu juga Kuro menangis, ia meluapkan semua emosinya, ia sudah tak bisa berkata-kata lagi, hanya tangislah yang dapat mengungkapkan isi hati Kuro sekarang. Tetes demi tetes air mata jatuh dari matanya, kini hati yang tadinya dibanjiri oleh “hujan” telah tersalurkan, karena hati Kuro sudah tak bisa menampung “air” yang berada di hatinya.

Setelah kejadian itu, Kuro terlihat sedikit membaik, tapi tetap ia belum bisa terbuka dengan lingkungan sekitarnya, ia masih teringat akan quote itu. Hujan pun turun ketika malam datang, sesaat hujan itu turun rintik-rintik dan akhirnya menjadi deras, sama seperti yang Kuro alami kemarin. Saat itu Kuro sedang berada di sebuah bangunan tua milik kakeknya, lagi-lagi ia sedang menyendiri, menghindar dari keramaian yang seolah-olah membuatnya “sakit.” Seketika itu juga Kuro naik ke atap bangunan tua itu, ia berjalan terus ke depan sambil menikmati hujan yang turun. Kuro sangat menyukai hujan, ketika melihat hujan, Kuro dapat merasakan kebahagian dan kesedihan. Saat itu yang ia rasakan adalah kesedihan. Ia duduk di pinggir atap, sambal menikmati tiap tetes air hujan. Seketika ia mengeluarkan kotak musik dari dalam kantongnya dan ia memutar sebuah lagu. Lagu yang ia putar adalah sebuah permainan instrumen biola. Tiap gesekan dari biola itu benar-benar menyayat hati Kuro, ia seperti berada dalam dunianya sendiri. Hanya hujan dan sebuah gesekan biola yang menemani dia saat itu. Ia pun tak kuasa menahan tangisnya, lagi-lagi “hujan” keluar dari matanya. Tetes air matanya bercampur dengan hujan yang turun.

“Sampai kapan aku akan terus seperti ini,” ucap Kuro.

“Mungkin selamanya,” balas seorang wanita yang tiba-tiba datang menghampirinya sambil membawa payung.

Kuro langsung menoleh ke arah munculnya suara itu, dan ternyata orang itu adalah….. dia seorang wanita, tetapi Kuro tidak tahu siapa wanita itu.

“Kamu akan tetap seperti ini kalau kamu tetap membiarkan dirimu terkurung di dalam sana,” kata wanita itu.

“Oh ya? Lagi pula kalau aku tetap seperti ini, itu juga bukan masalah kamu kan. Lebih baik urus saja dirimu sendiri.”

“Itu memang bukan urusanku, tapi aku peduli denganmu. Aku hanya ingin kamu sadar bahwa ada orang yang peduli sama kamu. Kamu jangan membangun tembok besar di hatimu, karena itu yang akan membuat kamu terus beranggapan bahwa tidak ada orang peduli sama kamu.”

“Tembok besar? Kamu tau apa soal kehidupan? Faktanya memang seperti ini, aku yang merasakan, kamu gak tau apa-apa. You’ll never understand this loneliness until it happens to you.”

Take a deep breath.. aku mau kok jadi temen kamu, aku akan dengerin semua cerita kamu, keluh-kesahmu. I’ll never let you down, bahkan ketika kamu jatuh sekalipun aku akan tetap disampingmu,” kata wanita itu seraya meyakinkan Kuro.

“Omong kosong. Semua orang ngomong seperti itu, tapi itu hanya di mulut saja, kenyataannya tidak seperti itu. Kalau pun kamu benar-benar mau jadi temanku, paling itu hanya di awal saja, pada akhirnya kamu akan sama seperti mereka, hanya menjadi fake friends. I’d rather be alone than having a fake friendship,” balas Kuro dengan tegas.

Tak lama kemudian wanita itu segera memegang tangan Kuro dan berkata,“Hey, kamu tau arti dari teman gak? Teman itu gak akan membiarkan temannya jatuh, sedih. Teman itu menguatkan, bukan menjatuhkan. Tenangkan hatimu, jangan biarkan emosi mengendalikanmu.”

Terpancar sebuah senyuman yang meyakinkan Kuro dari wanita itu.

“Aku Eri,” kata wanita itu sambil mengulurkan tangannya.

“Umm.. Aku… Kuro,” jawabnya dengan pelan dan senyum kecil dari wajahnya seraya mengulurkan tangan.


Akhirnya Kuro menemukan seorang yang mau menjadi temannya, meskipun ia masih ragu dengan wanita itu. Ia tetap saja teringat akan quote itu. Ia dihantui baying-bayang masa lalu dan quote itu. “No one cares, they’re just pretending” seolah-olah itu menjadi kutukan bagi Kuro.