Tahun pun berganti, tahun ini Kuro tetap menyukai
wanita itu, wanita yang telah menyakiti hatinya. Hari demi hari ia lalui dengan
kesedihan dan kemurungan, tiada lagi tawa yang nampak di raut wajahnya. Sesekali
orang di sekitarnya membuat sebuah lelucon, tapi wajahnya tetap menunjukkan
kesedihan. Ia seakan tidak peduli terhadap lingkungannya, tak hanya kepada
lingkungan, ia juga nampak tidak peduli terhadap dirinya sendiri. Kuro sungguh
sudah kehilangan semangat, entah sampai kapan ia akan tetap seperti ini.
Tahun ini nampaknya hujan membanjiri kota ini, tak
peduli musim kemarau atau hujan, awan tetap menurunkan hujan ke tanah ini sama
seperti Kuro yang jauh kedalaman hatinya sedang dibanjiri oleh “hujan” yang tak
kunjung berhenti. Suatu hari ada kejadian yang membuat Kuro berubah, ya
berubah, berubah menjadi lebih buruk. Insting dia ternyata benar, bahwa wanita
yang telah menyakiti hatinya itu sekarang sudah memiliki kekasih lagi. Tetapi,
yang membuat Kuro menjadi lebih buruk bukanlah karena wanita itu sudah memiliki
kekasih lagi, ia hanya kecewa dengan apa yang diucapkan oleh wanita itu
kepadanya. Apa yang wanita itu ucapkan berbeda dengan kenyataannya. Satu sisi
Kuro senang wanita itu sudah mendapat kekasih lagi, tapi di sisi lain ia begitu
hancur. Kuro semakin tidak peduli dengan keadaannya, mungkin teman-temannya pun
tidak ada yang tau kabar tentang Kuro, dia bagaikan hilang ditelan bumi.
Hari berganti hari, raut wajah Kuro tetap sama, datar,
dan seperti menunjukkan kesedihan yang mendalam. Tak ada seorang pun yang tahu
isi hati Kuro, ia juga tak mau membagikan kesedihannya ini karena ia tahu tidak
akan ada yang peduli dan dapat menolongnya. Pikiran Kuro sungguh sudah tak
karuan, ia sudah tidak bisa berpikir jernih lagi. Ada suatu quote yang mengejutkan ia, “No one cares, they’re just pretending.” Ia
diam tersentak ketika membaca quote itu.
Ia seolah-olah percaya akan kata-kata itu.
“Benar juga ya, toh aku sekarang sedang mengalaminya. Memang
benar-benar semua orang itu hanya pura-pura,” kata Kuro dalam hatinya.
Kuro semakin yakin bahwa di dunia ini semua orang
hanyalah berpura-pura, ia bahkan berpikir demikian mengenai teman-temannya.
Kesepian dan kesendirian kerap kali menyelimuti Kuro, ia lebih suka menyendiri
dari pada berada di tengah-tengah temannya, karena ia merasa meskipun ia berada
di tengah-tengah keramaian ia tetap merasakan kesepian dan bahkan itu lebih
parah. Ia tidak merasakan sukacita, yang ia rasakan adalah kegalapan dan
kesepian yang teramat dalam. Kuro bagaikan seorang manusia yang berada di
kegelapan, duduk menyendiri di sebuah sudut ruangan. Ia mau teriak, sungguh
ingin berteriak, tapi tidak bisa. Semua kata yang keluar dari mulutnya nampak
sia-sia, bahkan ia terlihat seperti tidak bisa mendengar apapun bahkan suaranya
sekalipun. Semua tampak membisu. Kuro benar-benar sudah kehilangan arah. Sesaat
Kuro membayangkan ia sedang berada di depan cermin. Ia melihat dirinya di
cermin tersebut, ya ia melihat betapa hancur dirinya. Seketika itu juga Kuro
menangis, ia meluapkan semua emosinya, ia sudah tak bisa berkata-kata lagi,
hanya tangislah yang dapat mengungkapkan isi hati Kuro sekarang. Tetes demi
tetes air mata jatuh dari matanya, kini hati yang tadinya dibanjiri oleh “hujan”
telah tersalurkan, karena hati Kuro sudah tak bisa menampung “air” yang berada
di hatinya.
Setelah kejadian itu, Kuro terlihat sedikit membaik,
tapi tetap ia belum bisa terbuka dengan lingkungan sekitarnya, ia masih
teringat akan quote itu. Hujan pun
turun ketika malam datang, sesaat hujan itu turun rintik-rintik dan akhirnya
menjadi deras, sama seperti yang Kuro alami kemarin. Saat itu Kuro sedang
berada di sebuah bangunan tua milik kakeknya, lagi-lagi ia sedang menyendiri,
menghindar dari keramaian yang seolah-olah membuatnya “sakit.” Seketika itu
juga Kuro naik ke atap bangunan tua itu, ia berjalan terus ke depan sambil menikmati
hujan yang turun. Kuro sangat menyukai hujan, ketika melihat hujan, Kuro dapat
merasakan kebahagian dan kesedihan. Saat itu yang ia rasakan adalah kesedihan. Ia
duduk di pinggir atap, sambal menikmati tiap tetes air hujan. Seketika ia
mengeluarkan kotak musik dari dalam kantongnya dan ia memutar sebuah lagu. Lagu
yang ia putar adalah sebuah permainan instrumen biola. Tiap gesekan dari biola
itu benar-benar menyayat hati Kuro, ia seperti berada dalam dunianya sendiri. Hanya
hujan dan sebuah gesekan biola yang menemani dia saat itu. Ia pun tak kuasa
menahan tangisnya, lagi-lagi “hujan” keluar dari matanya. Tetes air matanya bercampur
dengan hujan yang turun.
“Sampai kapan aku akan terus seperti ini,” ucap Kuro.
“Mungkin selamanya,” balas seorang wanita yang
tiba-tiba datang menghampirinya sambil membawa payung.
Kuro langsung menoleh ke arah munculnya suara itu, dan
ternyata orang itu adalah….. dia seorang wanita, tetapi Kuro tidak tahu siapa
wanita itu.
“Kamu akan tetap seperti ini kalau kamu tetap
membiarkan dirimu terkurung di dalam sana,” kata wanita itu.
“Oh ya? Lagi pula kalau aku tetap seperti ini, itu
juga bukan masalah kamu kan. Lebih baik urus saja dirimu sendiri.”
“Itu memang bukan urusanku, tapi aku peduli denganmu. Aku
hanya ingin kamu sadar bahwa ada orang yang peduli sama kamu. Kamu jangan
membangun tembok besar di hatimu, karena itu yang akan membuat kamu terus
beranggapan bahwa tidak ada orang peduli sama kamu.”
“Tembok besar? Kamu tau apa soal kehidupan? Faktanya memang
seperti ini, aku yang merasakan, kamu gak tau apa-apa. You’ll never understand this loneliness until it happens to you.”
“Take a deep
breath.. aku mau kok jadi temen kamu, aku akan dengerin semua cerita kamu,
keluh-kesahmu. I’ll never let you down,
bahkan ketika kamu jatuh sekalipun aku akan tetap disampingmu,” kata wanita itu
seraya meyakinkan Kuro.
“Omong kosong. Semua orang ngomong seperti itu, tapi
itu hanya di mulut saja, kenyataannya tidak seperti itu. Kalau pun kamu
benar-benar mau jadi temanku, paling itu hanya di awal saja, pada akhirnya kamu
akan sama seperti mereka, hanya menjadi fake
friends. I’d rather be alone than
having a fake friendship,” balas Kuro dengan tegas.
Tak lama kemudian wanita itu segera memegang tangan
Kuro dan berkata,“Hey, kamu tau arti dari teman gak? Teman itu gak akan
membiarkan temannya jatuh, sedih. Teman itu menguatkan, bukan menjatuhkan.
Tenangkan hatimu, jangan biarkan emosi mengendalikanmu.”
Terpancar sebuah senyuman yang meyakinkan Kuro dari
wanita itu.
“Aku Eri,” kata wanita itu sambil mengulurkan
tangannya.
“Umm.. Aku… Kuro,” jawabnya dengan pelan dan senyum
kecil dari wajahnya seraya mengulurkan tangan.
Akhirnya Kuro menemukan seorang yang mau menjadi
temannya, meskipun ia masih ragu dengan wanita itu. Ia tetap saja teringat akan
quote itu. Ia dihantui baying-bayang
masa lalu dan quote itu. “No one cares, they’re just pretending” seolah-olah
itu menjadi kutukan bagi Kuro.
No comments:
Post a Comment