Thursday, August 14, 2014

Hujan

Tahun pun berganti, tahun ini Kuro tetap menyukai wanita itu, wanita yang telah menyakiti hatinya. Hari demi hari ia lalui dengan kesedihan dan kemurungan, tiada lagi tawa yang nampak di raut wajahnya. Sesekali orang di sekitarnya membuat sebuah lelucon, tapi wajahnya tetap menunjukkan kesedihan. Ia seakan tidak peduli terhadap lingkungannya, tak hanya kepada lingkungan, ia juga nampak tidak peduli terhadap dirinya sendiri. Kuro sungguh sudah kehilangan semangat, entah sampai kapan ia akan tetap seperti ini.

Tahun ini nampaknya hujan membanjiri kota ini, tak peduli musim kemarau atau hujan, awan tetap menurunkan hujan ke tanah ini sama seperti Kuro yang jauh kedalaman hatinya sedang dibanjiri oleh “hujan” yang tak kunjung berhenti. Suatu hari ada kejadian yang membuat Kuro berubah, ya berubah, berubah menjadi lebih buruk. Insting dia ternyata benar, bahwa wanita yang telah menyakiti hatinya itu sekarang sudah memiliki kekasih lagi. Tetapi, yang membuat Kuro menjadi lebih buruk bukanlah karena wanita itu sudah memiliki kekasih lagi, ia hanya kecewa dengan apa yang diucapkan oleh wanita itu kepadanya. Apa yang wanita itu ucapkan berbeda dengan kenyataannya. Satu sisi Kuro senang wanita itu sudah mendapat kekasih lagi, tapi di sisi lain ia begitu hancur. Kuro semakin tidak peduli dengan keadaannya, mungkin teman-temannya pun tidak ada yang tau kabar tentang Kuro, dia bagaikan hilang ditelan bumi.

Hari berganti hari, raut wajah Kuro tetap sama, datar, dan seperti menunjukkan kesedihan yang mendalam. Tak ada seorang pun yang tahu isi hati Kuro, ia juga tak mau membagikan kesedihannya ini karena ia tahu tidak akan ada yang peduli dan dapat menolongnya. Pikiran Kuro sungguh sudah tak karuan, ia sudah tidak bisa berpikir jernih lagi. Ada suatu quote yang mengejutkan ia, “No one cares, they’re just pretending.” Ia diam tersentak ketika membaca quote itu. Ia seolah-olah percaya akan kata-kata itu.

“Benar juga ya, toh aku sekarang sedang mengalaminya. Memang benar-benar semua orang itu hanya pura-pura,” kata Kuro dalam hatinya.

Kuro semakin yakin bahwa di dunia ini semua orang hanyalah berpura-pura, ia bahkan berpikir demikian mengenai teman-temannya. Kesepian dan kesendirian kerap kali menyelimuti Kuro, ia lebih suka menyendiri dari pada berada di tengah-tengah temannya, karena ia merasa meskipun ia berada di tengah-tengah keramaian ia tetap merasakan kesepian dan bahkan itu lebih parah. Ia tidak merasakan sukacita, yang ia rasakan adalah kegalapan dan kesepian yang teramat dalam. Kuro bagaikan seorang manusia yang berada di kegelapan, duduk menyendiri di sebuah sudut ruangan. Ia mau teriak, sungguh ingin berteriak, tapi tidak bisa. Semua kata yang keluar dari mulutnya nampak sia-sia, bahkan ia terlihat seperti tidak bisa mendengar apapun bahkan suaranya sekalipun. Semua tampak membisu. Kuro benar-benar sudah kehilangan arah. Sesaat Kuro membayangkan ia sedang berada di depan cermin. Ia melihat dirinya di cermin tersebut, ya ia melihat betapa hancur dirinya. Seketika itu juga Kuro menangis, ia meluapkan semua emosinya, ia sudah tak bisa berkata-kata lagi, hanya tangislah yang dapat mengungkapkan isi hati Kuro sekarang. Tetes demi tetes air mata jatuh dari matanya, kini hati yang tadinya dibanjiri oleh “hujan” telah tersalurkan, karena hati Kuro sudah tak bisa menampung “air” yang berada di hatinya.

Setelah kejadian itu, Kuro terlihat sedikit membaik, tapi tetap ia belum bisa terbuka dengan lingkungan sekitarnya, ia masih teringat akan quote itu. Hujan pun turun ketika malam datang, sesaat hujan itu turun rintik-rintik dan akhirnya menjadi deras, sama seperti yang Kuro alami kemarin. Saat itu Kuro sedang berada di sebuah bangunan tua milik kakeknya, lagi-lagi ia sedang menyendiri, menghindar dari keramaian yang seolah-olah membuatnya “sakit.” Seketika itu juga Kuro naik ke atap bangunan tua itu, ia berjalan terus ke depan sambil menikmati hujan yang turun. Kuro sangat menyukai hujan, ketika melihat hujan, Kuro dapat merasakan kebahagian dan kesedihan. Saat itu yang ia rasakan adalah kesedihan. Ia duduk di pinggir atap, sambal menikmati tiap tetes air hujan. Seketika ia mengeluarkan kotak musik dari dalam kantongnya dan ia memutar sebuah lagu. Lagu yang ia putar adalah sebuah permainan instrumen biola. Tiap gesekan dari biola itu benar-benar menyayat hati Kuro, ia seperti berada dalam dunianya sendiri. Hanya hujan dan sebuah gesekan biola yang menemani dia saat itu. Ia pun tak kuasa menahan tangisnya, lagi-lagi “hujan” keluar dari matanya. Tetes air matanya bercampur dengan hujan yang turun.

“Sampai kapan aku akan terus seperti ini,” ucap Kuro.

“Mungkin selamanya,” balas seorang wanita yang tiba-tiba datang menghampirinya sambil membawa payung.

Kuro langsung menoleh ke arah munculnya suara itu, dan ternyata orang itu adalah….. dia seorang wanita, tetapi Kuro tidak tahu siapa wanita itu.

“Kamu akan tetap seperti ini kalau kamu tetap membiarkan dirimu terkurung di dalam sana,” kata wanita itu.

“Oh ya? Lagi pula kalau aku tetap seperti ini, itu juga bukan masalah kamu kan. Lebih baik urus saja dirimu sendiri.”

“Itu memang bukan urusanku, tapi aku peduli denganmu. Aku hanya ingin kamu sadar bahwa ada orang yang peduli sama kamu. Kamu jangan membangun tembok besar di hatimu, karena itu yang akan membuat kamu terus beranggapan bahwa tidak ada orang peduli sama kamu.”

“Tembok besar? Kamu tau apa soal kehidupan? Faktanya memang seperti ini, aku yang merasakan, kamu gak tau apa-apa. You’ll never understand this loneliness until it happens to you.”

Take a deep breath.. aku mau kok jadi temen kamu, aku akan dengerin semua cerita kamu, keluh-kesahmu. I’ll never let you down, bahkan ketika kamu jatuh sekalipun aku akan tetap disampingmu,” kata wanita itu seraya meyakinkan Kuro.

“Omong kosong. Semua orang ngomong seperti itu, tapi itu hanya di mulut saja, kenyataannya tidak seperti itu. Kalau pun kamu benar-benar mau jadi temanku, paling itu hanya di awal saja, pada akhirnya kamu akan sama seperti mereka, hanya menjadi fake friends. I’d rather be alone than having a fake friendship,” balas Kuro dengan tegas.

Tak lama kemudian wanita itu segera memegang tangan Kuro dan berkata,“Hey, kamu tau arti dari teman gak? Teman itu gak akan membiarkan temannya jatuh, sedih. Teman itu menguatkan, bukan menjatuhkan. Tenangkan hatimu, jangan biarkan emosi mengendalikanmu.”

Terpancar sebuah senyuman yang meyakinkan Kuro dari wanita itu.

“Aku Eri,” kata wanita itu sambil mengulurkan tangannya.

“Umm.. Aku… Kuro,” jawabnya dengan pelan dan senyum kecil dari wajahnya seraya mengulurkan tangan.


Akhirnya Kuro menemukan seorang yang mau menjadi temannya, meskipun ia masih ragu dengan wanita itu. Ia tetap saja teringat akan quote itu. Ia dihantui baying-bayang masa lalu dan quote itu. “No one cares, they’re just pretending” seolah-olah itu menjadi kutukan bagi Kuro.

No comments:

Post a Comment