Feels like a
new life. Itu yang dirasakan oleh
Kuro Watanabe saat itu. Semenjak ia menerima Eriumi Kawaguchi menjadi teman
barunya, kini ia merasakan hidupnya sangat berbeda. Kuro yang tadinya suka
sekali murung, menyendiri kini banyak senyum yang ia keluarkan di wajahnya, ia
tampak menikmati hidupnya. Ketika tidak ada jam kuliah mereka bermain dan
saling bertukar pikiran di rooftop kampus
mereka, tempat itu menjadi tempat favorit mereka ketika tidak ada jam kuliah.
Bahkan sesekali Eri, membawakan bekal untuk Kuro, karena ia tahu kalau Kuro
tidak pernah membawa bekal dan jarang sekali makan di kampus.
Suatu hari ada kegiatan di kampus mereka, semacam
ajang pencarian bakat layaknya di televisi. Kuro tertarik untuk ikut event itu, karena dari dulu ia ingin
sekali ikut acara-acara seperti ini dan kebetulan acara ini diadakan oleh
kampusnya jadi apa salahnya mencoba. Kemudian Kuro menceritakannya kepada Eri
kalau ia ingin ikut acara itu. Ternyata Eri juga sama dengannya, ia juga ingin
ikut acara itu. Eri memiliki suara yang bagus, ia merupakan anggota paduan
suara di kampus. Mendengar hal itu, seketika terpintas di pikiran Kuro untuk
mengajak Eri duet. Kuro yang akan memainkan musiknya dan Eri yang akan
bernyanyi. Ia berencana untuk tampil acoustic
dalam event itu.
“Bagaimana kalau kita tampil berdua saja? Kan kamu
punya suara yang bagus, aku juga bisa main alat musik. Tidak asik rasanya kalau
nanti kamu tampil tapi tidak ada musiknya, acoustic jauh lebih seru lho,” godanya.
“Masa sih?
Bilang saja kamu ingin tampil denganku,” balasnya dengan tawa kecil di
wajahnya.
“Aaakk seriously cuma mau nawarin aja, ya kalo
ndak mau ndak apa-apa.”
“Hahahaha iya
iya, aku mau kok. Aku akan tampil denganmu di acara itu. Kalau begitu lagu apa
yang akan kita bawakan? Tapi itu harus audisi dulu loh.”
“Untuk lagu
audisi kita bawa lagu soundtrack dari Aladdin saja, A Whole New World,” kata Kuro.
“A Whole New World? Sepertinya itu ide
bagus. Baiklah, kalau begitu lebih baik kita sekarang segera mendaftar kemudian
latihan. Audisinya lusa kan?”
“Oh iya betul!
Kita tak punya banyak waktu, ayo kita segera daftar!”
Kemudian
mereka pun segera mendaftar dan berlatih. A
Whole New World, lagu soundtrack dari film animasi Aladdin ini akan jadi
seperti apa bila dibawakan oleh mereka. Kuro dan Eri berlatih dari pagi sampe
sore, mereka berlatih di rumah Kuro. Kuro memiliki studio musik di rumahnya,
musik sudah menjadi bagian dari hidupnya sejak kecil. Di studionya ada banyak alat musik, dari drum, gitar akustik sampai
listrik, bass, cajoon, keyboard, bahkan biola juga ada. Untuk audisi nanti Kuro
akan memainkan keyboard. Mereka berlatih hampir lupa waktu, sebegitu
menyenangkannya latihan mereka sampai mereka lupa waktu. Ketika mereka melihat
jam, ternyata jarum jam sudah menunjukkan pukul 9 malam. Karena tidak mungkin
Kuro membiarkan Eri pulang sendiri, ia pun kemudian mengantarkan Eri pulang.
Rumah Eri tidak jauh dari rumah Kuro, mereka satu perumahan hanya beda blok
saja. Kemudian dengan sepeda motornya Kuro mengantarkan Eri pulang.
Hari ini merupakan hari terakhir untuk pendaftaran
audisi. Banyak mahasiswa yang mengantri di bagian pendaftaran, mereka seperti
semut kalau dilihat dari atas. Mereka saat antusias untuk ikut event ini, karena akan dicari 3 peserta
terbaik yang akan tampil lagi untuk mencari siapa juara pertama, kedua, dan
ketiganya. Hari ini Kuro dan Eri tidak berlatih, mereka ingin menjaga stamina
terutama untuk Eri, ia harus menjaga suaranya agar besok ia bisa tampil dengan
baik.
Akhirnya tibalah saatnya hari audisi ajang pencarian
bakat. Satu per satu para mahasiswa masuk ke dalam ruang audisi, banyak juga
dari mereka yang tidak lolos. Audisi ini sangat sulit karena hanya mencari 3
besar saja. Sudah satu jam mereka menunggu, Eri tampak begitu tidak percaya
diri.
“Sepertinya kita lebih baik mundur saja. Aku takut.”
“Tidak usah takut, aku bersamamu kok. Kita kan tampil
berdua, yang perlu kamu lakukan nanti hanyalah percaya kepadaku, bayangkan kamu
tidak ikut dalam audisi ini. Bayangkan saja kamu menyanyi di sebuah ruang kosong
yang hanya ada kamu saja.”
“Tapi…….”
“Sudah, tenang saja. Semua akan baik-baik saja.”
Mendengar kata-kata Kuro seketika itu juga Eri merasa
lebih baik, ia berusaha percaya kepada Kuro.
Saat yang dinanti-nanti akhirnya tiba, Kuro dan Eri
masuk ke dalam ruang audisi. Hawa yang dingin sudah menyelimuti ruangan ini
sejak awal, mungkin ini yang membuat banyak peserta tidak percaya diri. Mereka
pun mulai membawakan lagu yang berjudul A
Whole New World. Eri mengikuti saran Kuro tadi, ia membayangkan kalau di ruangan
itu hanya ada dirinya saja. Tiap alunan keyboard yang dimainkan Kuro masuk ke
dalam jiwa Eri, seolah-olah alunan itu mengajaknya untuk bernyanyi. Dengan
lembut Eri menyanyikan tiap bait dari lagu yang menjadi soundtrack dari film
animasi Aladdin itu. Tak hanya itu, Kuro juga ikut menyanyi dalam bagiannya
karena lagu ini aslinya dinyanyikan untuk duet. Suara Eri sungguh lembut,
begitu juga dengan Kuro, suara mereka tampak harmonis. Ketika mereka selesai
bernyanyi, tampak ketiga juri itu langsung memberikan mereka tiket untuk tampil
di grand final nanti. Mereka sepakat untuk memberikan Kuro dan Eri tiket itu,
karena mereka melihat harmonisasi dan keindahan saat Kuro dan Eri tampil.
Senyum dan tangis bahagia terlihat di ruang itu, Eri sangat senang, ternyata
apa yang dikatakan Kuro benar, “Semua akan baik-baik saja.”
Mereka pun keluar dari ruang audisi itu, mereka keluar
dengan wajah yang berseri. Mereka akan tampil di grand final. Kebahagiaan
menyelimuti sepasang sahabat itu.
“Benar kan apa kataku, kita pasti lolos!”
“Iyaa kamu benar. Tumben ya hahaha,” goda Eri.
“Nyehh, kesannya aku selalu salah ya.”
“Hahaha tidak kok, sudahlah. Lebih baik kita rayakan
saja malam ini, bagaimana kalau kita pergi makan? Aku yang traktir.”
“Baiklah, kalau begitu biarkan aku yang memilih tempat
dan tentukan jamnya.”
Kemudian tepat jam 8 malam Kuro menjemput Eri, ia
sudah berada di depan rumah Eri. Tak lama kemudian Eri keluar dari rumahnya dan
berjalan menuju mobil Kuro. Seketika Kuro terpaku melihat Eri, ia tidak
menyangka kalau Eri ternyata manis juga.
“Hey, kenapa bengong? Ada yang salah denganku?” Ia
bertanya kepada kuro sambil berkaca.
“Ah, tidak tidak. Tidak ada yang salah, make up mu
hanya terlihat sedikit tebal,” goda Kuro.
“Benarkah?! Ah! Padahal aku rasa tadi sudah pas.”
“Haha tidak kok, kamu terlihat manis malam ini,” goda
Kuro sekali lagi sambil mengacak-acak rambut Eri.
“Hey! Aku susah payah menatanya!”
“Haha iya iya maaf, dasar cerewet.”
Kemudian Kuro menginjak pedal gas mobilnya dan menuju
ke La café, sebuah café yang menjadi favorit Kuro. Setelah sampai disana
pelayan café itu segera membukakan pintu café dan mengantar Kuro dan Eri ke
meja makan yang telah dipesan Kuro.
“Hmm… Jadi kita akan makan disini?” tanya Eri heran.
“Iya, kenapa? Kamu tidak suka tempatnya?”
“Ah, tidak. Aku suka, sangat suka. Hanya saja aku
heran kenapa kamu harus memilih tempat ini.”
“Aku memilih tempat ini untuk merayakan atas lolosnya
kita di audisi tadi, kamu kan sudah berjuang keras untuk berani tampi di depan
para juri itu.”
“Tapi apa ini tidak berlebihan? Kan kita baru lolos
audisi dan masuk tiga besar, kompetisi sebenarnya itu lusa.”
“Sudahlah, tak apa. Jangan terlalu dipikirkan, toh aku
juga tidak pernah mengajakmu makan seperti ini kan sebelumnya. Lebih baik malam
ini kita nikmati saja dan makan sepuasnya,” jawab Kuro dengan santai.
“Baiklah, ayo kita pesan. Aku juga sudah lapar.”
Kemudian mereka memesan makanan dan menyantap makanan
itu semua dengan lahap. Terlihat sekali Eri sangat lapar, ia sampai memesan
lagi. Kuro hanya bisa tersenyum melihat tindakan sahabatnya itu. Setelah mereka
selesai makan, mereka pun segera pulang. Kuro mengantarkan Eri ke rumah di
perjalanan Eri tertidur, mungkin karena ia tadi sudah makan banyak jadi ia
mengantuk. Akhirnya sampai juga di depan rumah Eri, Kuro mencoba membangunkan
Eri tapi percuma, Eri tetap tertidur dan tidak ingin bangun. Akhirnya Kuro
berinisiatif untuk menggendong Eri ke kamarnya. Ketika Kuro sampai di depan
pintu rumah Eri, seorang wanita membukakan pintu. Wanita yang memiliki wajah
keturunan Jepang campur China itu adalah ibu Eri, Sora Kawaguchi.
“Malam, tante,” sapa Kuro.
“Malam, Kuro. Wah, Eri gak bisa dibangunin ya? Kamu
jadi gendong dia.”
“Iya tante, gapapa kok. Oh iya tante, aku anter Eri ke
kamarnya ya. Permisi tante.”
“Iya, silahkan. Anggap saja rumahmu sendiri,” jawab
Sora Kawaguchi.
Kemudian Kuro pun menggendong Eri ke kamarnya. Sampai
di kamar Eri, Kuro segera menurunkan Eri ke kasurnya. Kemudian ketika Kuro
ingin keluar dari kamar Eri, tiba-tiba tangan Eri memegang tangan Kuro, ia
menggenggamnya seakan tidak ingin Kuro pergi.
“Wah, Eri pasti sedang mimpi nih. Dia pasti mengira
aku Shiro (anjing piaraan Eri), memegang tanganku layaknya seperti sedang
memegang kakinya Shiro.”
Kemudian dengan perlahan Kuro melepaskan genggaman
tangan Eri dari tangannya, ia sungguh berhati-hati melakukannya karena ia tidak
ingin Eri terbangun. Setelah genggaman itu lepas, Kuro pun segera keluar dari
kamar Eri dan berpamitan kepada ibunya Eri dan pulang ke rumah.
“Tante, Erinya udah di kamar ya. Aku mau pamit pulang
dulu, selamat malam tante.”
“Iya, terima kasih Kuro sudah mengantarkan Eri pulang.
Maaf merepotkan ya.”
“Ah, tidak apa kok tante. Toh rumah kita juga
berdekatan kok. Pulang dulu tante.”
“Iya, hati-hati nak Kuro.”
Kuro pun segera pulang ke rumah. Malam itu menjadi
malam yang indah bagi kedua sahabat itu. Malam itu pertama kalinya Kuro
mengajak makan malam Eri di sebuah café, entah apa yang ada di pikiran Kuro dan
apa yang dirasakan Eri saat itu.
Malam pun berganti, langit yang tadinya gelap sekarang
berubah menjadi warna biru cerah. Hari ini Kuro dan Eri harus latihan untuk
tampi di grand final besok. Mereka akan ditonton oleh seluruh mahasiswa dari
semua fakultas. Waktu yang diberikan panitia memang sangat sedikit sekali,
jarak dari audisi ke grand final sangat dekat. Kuro dan Eri harus bisa
memanfaatkan waktu ini dengan baik. Hari ini mereka tidak ada jadwal kuliah,
jadi mereka bisa latihan. Mereka pun memulai latihan di rumah Kuro saat siang
hari. Untuk grand final besok mereka akan membawakan lagu dari seorang penyanyi
wanita, ia menyanyikan lagu ini ketika masih kecil. First Love, itu adalah lagu
yang dinyanyikan oleh Nikka Costa, dan mereka akan membawakan lagu itu besok.
Seperti biasa Kuro dengan keyboard nya memainkan lagu
itu dengan indah diikuti dengan suara lembut dari Eri. Kuro mengaransemen lagu
ini seindah mungkin, agar tidak terlihat sama dengan versi aslinya. Mereka akan
menyanyikan lagu ini bersama, Kuro akan akan ikut bernyanyi ketika masuk ke
reff nya. Tak terasa mereka sudah begitu lama berlatih, hari sudah malam dan
pastinya cacing di perut mereka sudah berontak.
“Kamu pasti lapar, ayo kita makan. Aku yang memasak,”
kata Kuro.
“Hah? Kamu bisa masak? Pasti ga enak,” goda Eri.
“Enak aja, sudah nurut saja. Aku jamin kamu suka
dengan masakanku,” ucap Kuro berusaha meyakinkan.
“Okay okay, lagi-lagi aku harus menurutimu ya. Siap
komandan!”
“Kamu tunggu saja di ruang tamu sambil nonton tv, aku
akan bereksperimen di dapur.”
Eri akhirnya menuruti kata-kata Kuro, ia menunggu di
ruang tamu sambil menonton tv. Di rumah ini Kuro tinggal sendiri, kedua orang
tuanya sudah meninggal, seluruh keluarga besarnya tinggal di luar negeri,
tepatnya di Australia. Almarhum ibu Kuro berkewarganegaraan Jepang dan almarhum
ayahnya Australia. Wajah Kuro mirip dengan ibunya, wajah orang Jepang, namun
bola matanya berwarna biru dan warna rambutnya berwarna cokelat, mirip seperti
almarhum ayahnya. Ini pasti berat buat Kuro, begitu yang terbesit di pikiran
Eri ketika melihat foto-foto Kuro bersama ayah dan ibunya, apalagi Kuro adalah
anak tunggal. Tak lama kemudian tercium aroma masakan yang sungguh enak, yang
membuat cacing-cacing di perut Eri semakin memberontak. Kuro meletakkan
masakannya itu di meja makan.
“Hey, Chef Kuro sudah selesai bertugas nih. Makanan
sudah tersedia semua.”
“Iya iya, aku tau kok. Aromanya udah kecium nih, kita
buktikan saja enak atau engga masakanmu.”
Kemudian mereka pun menyantap masakan Kuro, ternyata
lagi-lagi benar, masakan Kuro memang enak. Pintar, jago masak, bisa main semua
alat musik, Kuro benar-benar idaman semua wanita. Kedua orang tuanya pasti
senang melihat Kuro yang sekarang, keceriaan yang terpancar di wajah Kuro
sungguh seperti mukjizat dari Tuhan.
“Hey, ternyata masakanmu enak juga. Sepertinya aku
perlu belajar darimu, Chef Kuro,” goda Eri.
“Haha ah engga kok, biasa aja. Masakanmu malah lebih
enak,” jawab Kuro.
“Kuro… Kamu ga usah merendah deh, masakanmu memang
enak kok. That’s a fact.”
“Hmm lebih baik kita buktikan saja, lain kali kamu
harus membawakanku bekal dan itu harus kamu yang masak, jangan mamamu.”
“Ehh, tau dari mana kalau selama ini yang memasak
untuk bekalmu itu mamaku?” tanya Eri heran.
“Cuma nebak doang kok, lagi pula kan masakan mamau
khas sekali. Waktu aku main ke rumahmu kan dia pernah memasak untuk kita.”
“Oh iya. Yaah, ketauan dong…. Hmm okay, lain kali akan
ku buatkan kamu bekal, tapi masakanku udah pasti kalah jauh dari masakanmu.”
“Sudahlah, tak apa. Yang penting kamu membawakanku
bekal, kamu mau lihat aku kelaparan di kampus?” goda Kuro.
“Noooooooooooo. Oke
oke, baiklah aku akan berusaha sekeras mungkin.”
“Haha good
girl,” ucap Kuro sambil mengacak-acak rambut Eri.
“Hahh, kamu suka sekali mengacak-acak rambutku ya?! Oh
iya, semalam kamu menggendongku ke kamar ya?”
“Iya, abis kamu susah bangun. Udah aku bangunin tapi
malah makin pules tidurnya.”
“Heeee, maaf……… Maklum, kalau udah kenyang pasti
bawaannya jadi ngantuk,” jawab Eri malu.
“Iya, gapapa kok. Aku juga tahu kamu pasti udah
kecapean sekali kan, sampe ngorok gitu tidurnya haha.”
“Hah?! Aku ngorok? Serius? Aaaaaaaakkk.”
“Hahaha engga kok, ga ngorok cuman sempat mengigau
aja. Kamu pasti lagi bermimpi tentang Shiro kan waktu itu? Aku sampai memegang
tanganku ketika aku mau keluar dari kamarmu.”
“Nyeehh. Bentar, aku megang tanganmu? Mimpi tentang
Shiro?” ucap Eri dengan wajah malu.
“Aku memegang
tangan Kuro? Apa benar? Oh Tuhan.... Kok bisa, semoga dia tidak salah paham,” kata
Eri dalam hati.
“Eri? Kenapa mukamu jadi merah begitu? Jadi benar kan
waktu itu kamu sedang bermimpi tentang Shiro, anjing piaraanmu itu? Kamu
memegannya erat sekali seakan tidak mau dia pergi pasti,” ucap Kuro dengan
segala logika yang ia pakai.
“Ummm….. i…. iya benar, aku bermimpi tentang Shiro
semalam. Dia nakal sekali, tidak bisa diam jadi aku pegang saja kakinya biar
dia tidak kesana-kemari,” jawab Eri berusaha untuk mengelak.
“Fyuh, untung
saja Kuro tidak sadar. Kalau dia tahu yang sebenarnya, bisa malu berat aku,” kata Eri dalam hati.
“Tuh kan betul, kamu memang bermimpi tentang dia. Kamu
kan memang saying sekali dengannya, jadi ga heran kalau kamu memimpikannya.”
“Heeeh iya….. Oya, karena sudah selesai makan aku
pulang ya. Udah malem juga, besok kan kita mau tampil jadi harus istirahat yang
cukup.”
“Oh iya, betul juga. Biar ku antar ya, udah malem
soalnya. Kalau gitu aku beres-beres dulu ya, wait a minute.”
“Okay.”
Kemudian Kuro pun membereskan meja makan dan mencuci
piring. Setelah semua itu selesai, ia segera mengantarkan Eri pulang karena
hari semakin larut. Hari itu pun berakhir.
Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu tiba, hari
perebutan juara 1 dan penentuan siapa yang menjadi idola di kampus ini. Semua
mahasiswa terlihat sangat antusias, apalagi ketiga grand finalis. Semua
mahasiswa pun berkumpul di ruang auditorium, dan ketiga finalis akan berada di
ruang tunggu. Sesuai undian, Kuro dan Eri akan tampil terakhir. Kemudian
terdengar suara MC yang sedang memandu jalannya acara. MC pun memanggil
kontestan pertama untuk tampil. Kontestan pertama ini adalah seorang pria
dengan sebuah gitar akustik. Kemudian ia pun bernyanyi dan memetik gitarnya
dengan indah, seluruh mahasiswa di ruang auditorium itu tampak menikmatinya dan
terlihat seluruh mahasiswi berteriak kencang ketika melihat penampilan
kontestan pertama itu, penampilannya sungguh menghipnotis kaum hawa. Selesai ia
tampil seluruh penonton pun memberikannya tepuk tangan, sungguh penampilan yang
bagus.
Kemudian tiba untuk kontestan kedua tampil, ia akan
menyanyi solo. Kontestan kedua ini adalah seorang wanita, katanya dia ini punya
suara yang indah dan diisukan merupakan kontestan yang paling berat tahun ini.
Kemudian ia pun berjalan ke panggung dan mulai bernyanyi.
“Hey Kuro, dia itu kan suaranya bagus banget. Meskipun
dia hanya bernyanyi solo pasti semua juri akan suka,” ucap Eri ragu.
“Eri, everthing’s
gonna be alright. Tenang, kita lakukan seperti audisi. Kita hanya perlu
memberi sentuhan lebih lembut lagi pada lagu ini, kita buat semua penonton dan
juri terkesima. You can do it, trust me,”
ucap Kuro berusaha untuk menenangkan Eri.
“Kuro, kamu
memang baik sekali. Di saat seperti ini kamu bisa menenangkanku, sepertinya aku
mulai…….”
“Eri. Eriumi, daijoubu?”
“Hah? Eh.. Eh…. Iya, aku baik-baik aja kok. Tenang,
aku akan menurutimu lagi kali ini, aku percaya kita bisa membuat mereka
terkesima melihat penampilan kita,” jawab Eri.
“Haha good
girl,” ucap Kuro dengan senyum di wajahnya.
Lagi-lagi Kuro bisa menenangkan Eri. Padahal dulu
ketika Kuro masih sangat hopeless hanya
Eri yang bisa menenangkan dan membuatnya lebih baik, tapi sekarang ketika
semuanya sudah berubah, justru Kuro sering sekali menenangkan Eri.
Kemudian tiba saatnya untuk Kuro dan Eri tampil.
Mereka akan bernyanyi di hadapan seluruh mahasiswa dan juga juri.
“Yosh, ganbatte!”
ucap Kuro.
Kuro pun mulai memainkan pianonya, seperti biasa
permainan pianonya sungguh lembut. Permainan pianonya itu seperti menghipnotis
seluruh penonton dan juri untuk masuk ke dalam lagu itu, ditambah lagi dengan
suara Eri yang lembut nan indah itu. Mereka berdua terlihat menjiwai lagu itu,
terutama Eri. Terlihat sekali Eri menjiwai lagu ini, sama seperti judul lagunya
First Love. Apa benar Eri menyukai
Kuro?
Ketika mereka selesai perform terdengar tepuk tangan dari salah seorang juri, kemudian
diikuti dengan juri lainnya dan juga para penonton bahkan ada yang sampai standing applause. Penampilan Kuro dan
Eri sungguh telah mewarnai ruang itu.
“Whoaa!! Penampilan yang begitu indah, sekali lagi
beri tepuk tangan untuk Kuro dan Eri!” ucap MC.
“Kalian tampak serasi, Eri juga tampak sangat menjiwai
lagu ini. Apa kalian berpacaran?” tanya MC dengan polosnya.
“Eh? Tidak tidak, kami hanya berteman kok. Kami memang
dekat,” jawab Eri dengan tergesa-gesa.
“Sungguh? Tapi kalian keliatan cocok loh,” goda MC itu
lagi.
“Sheesh.
Kenapa MC ini melontarkan pertanyaan semacam ini,” kata Eri dalam hati.
“Piwiit!” terdengar siulan dari bangku penonton.
“Kami hanya berteman kok, sungguh. Dia ini teman
baikku, dan kalau masalah lagu kami hanya iseng memilih lagu ini. Karena kami
pikir lagu ini menarik untuk kami bawakan di sini,” jawab Kuro.
“Oh begitu.. Baiklah, sekali lagi beri tepuk tangan
yang meriah kepada Kuro dan Eri!”
Atmosfir yang sungguh tak diduga, Kuro dan Eri
berhasil menghipnotis seluruh orang yang ada di ruang itu. Sekali lagi Kuro
benar, Everything’s gonna be alright.
Tiba saatnya untuk pengumuman pemenang siapa yang akan
menjadi idola di kampus ini. MC pun memanggil ketiga kontestan. Ini adalah saat
yang mendebarkan. Ketiga kontestan berdiri di tengah panggung. Kemudian MC
mulai mengumumkan juara ketiga. Juara ketiga jatuh kepada wanita yang bernyanyi
solo. Ternyata wanita itu mendapat juara ketiga, padahal dia memiliki suara
yang bagus dan pasti semua orang menduga kalau dia akan mendapatkan juara
pertama tapi ternyata tidak. Dan sekarang tersisa 2 kontestan, MC akan
mengumumkan siapa juara pertamanya, pria dengan gitar akustiknya atau duet Kuro
dan Eri. Sesaat ruang auditorium itu menjadi hening seperti kuburan. Kemudian
MC mulai membacakan siapa yang menjadi idola di kampus.
“Dan yang mendapatkan juara pertama sekaligus menjadi
idola di kampus adalah…… beri tepuk tangan yang meriah kepada……….. Kuro dan
Eri!” kata MC dengan penuh semangat.
Ruang auditorium yang tadinya hening seperti kuburan
seketika menjadi penuh dengan suara-suara yang mewarnai kebahagiaan Kuro dan
Eri. Akhirnya yang menjadi idola di kampus ini adalah sepasang mahasiswa yang
mengaku mereka hanyalah berteman saja yaitu, Kuro dan Eri.
“Kuro, kita menang! Kita menang!” ucap Eri sambil
memeluk Kuro.
Eri refleks memeluk Kuro ketika mendengar pengumuman
itu.
“Eh! Maaf maaf! Aku ga sengaja kok, sungguh,” kata Eri
berusaha menjelaskan.
“Haha iya gapapa kok, namanya juga refleks kan,” jawab
Kuro.
Akhirnya festival ini pun berakhir, Kuro dan Eri
menjadi idola di kampus ini. Lagu First
Love berhasil membawa mereka mendapat juara pertama.
“Hey, bagaimana untuk merayakan kemenangan ini, kita
makan? Makan di rumahku, aku yang memasak,” ajak Eri dengan penuh percaya diri.
“Kamu? Memasak? Yakin? Aku belum punya asuransi tapi
nih,” goda Kuro.
“Nyeehh, jahatnya. Kamu bilang ingin merasakan
masakanku, aku rasa ini waktu yang tepat. Ayolah, kamu ga boleh menolak. Harus
terima pokoknya.”
“Hooh… Maksa nih jadinya? Baiklah kalau kamu memaksa.”
“Iya, aku maksa. Abis kalau ga begini kamu pasti ga
mau kan.”
“Haha iya Eri Kawaguchi, aku akan datang ke rumahmu
dan kita akan makan masakanmu” ucap Kuro.
“Ah Kuro…
Kenapa kamu harus menyebut namaku dengan lengkap dan dengan ekspresi seperti
itu…..”
“Hmm baiklah. Kalau begitu kamu aku tunggu nanti
malam, jam 8 ya!” kata Eri.
Kemudian mereka pun pulang ke rumah, seperti biasa
Kuro mengantar Eri terlebih dulu. Langit pun berganti dari yang cerah menjadi
gelap.
“Kemana Kuro? Ini sudah jam 8 tapi dia belum datang
juga, apa dia lupa?” ucap Eri.
Tak lama kemudian terdengar bel rumah Eri berbunyi.
“Ah! Itu pasti dia!”
Dengan cepat Eri berlari ke pintu dan membukakannya.
“Hey, kenapa kamu terlambat Kuro Watanabe?” tanya Eri heran.
“Terlambat? Di jam ku baru jam 8 tepat kok. Emang di
rumahmu sudah jam berapa?”
“Jam 8 lewat 1 menit,” jawab Eri.
“Hmm jam mu terlalu cepat mungkin,” kata Kuro berusaha
membela diri.
“Sudahlah, lupakan. Yang penting ayo kita makan
sebelum makanannya dingin, aku sudah menyiapkannya.”
Oh, sudah siap semuanya? Sugee, baiklah ayo kita makan,” kata Kuro dengan penuh penasaran.
Kemudian mereka pun menyantap masakan Eri. Ternyata
masakan Eri enak, Kuro terlihat sangat lahap sekali.
“Delicious! Ternyata
masakanmu enak! Sepertinya aku tidak jadi masuk rumah sakit,” goda Kuro.
“Kamu masih saja menggodaku ya……. Sudah lebih baik
habiskan makanannya, aku buat ini semua khusus untukmu,” kata Eri.
“Haha siap tuan putri.”
Setelah selesai makan Eri pun menyuruh Kuro untuk
menunggu di ruang tamu sambil menonton tv. Eri segera membereskan meja makan.
Setelah selesai membereskan meja makan kemudian Eri menghampiri Kuro yang
berada di ruang tamu. Mereka pun mengobrol dan bercanda sambil menonton tv.
Saat itu jam sudah menunjukkan pukul 10 malam.
“Kuro, apakah kamu mau menginap untuk malam ini saja?
Mama sedang tidak rumah, tadi juga mama pesan kalau kamu menginap saja di
rumah,” ucap Eri.
“Mamamu bilang begitu? Oh., Baiklah, aku akan menginap
malam ini toh besok hari weekend juga,” kata Kuro.
“Benarkah? Ah, arigatou
Kuro-kun!” ucap Eri.
Eri sangat senang karena Kuro mau menginap di rumahnya
untuk malam ini. Kemudian mereka pun melanjutkan obrolan mereka. Ketika Kuro sedang
bercerita tiba-tiba ia melirik ke arah Eri, dan ternyata Eri tertidur. Pantas
saja Kuro merasa ada yang aneh. Melihat Eri yang tertidur pulas di sofa, Kuro
pun segera membawa Eri ke kamarnya.
“Lagi-lagi kamu tertidur ya, sepertinya kamu memang
mudah sekali tertidur kalau sudah kenyang,” kata Kuro sembari menggendong Eri.
Sampai di kamar Eri, kemudian Kuro segera membaringkan
Eri di tempat tidurnya. Ini adalah kedua kalinya Kuro berada di kamar Eri. Ia
melihat sekeliling kamar Eri, kamar ini sangat mencerminkan kepribadian Eri
yang periang. Banyak foto yang ditempel pada sebuah styrofoam di meja belajarnya. Eri memang suka sekali dengan
fotografi, ia suka mengabadikan semua kejadian yang ia lalui dengan kamera
kesayangannya. Kemudian ketika Kuro sedang melihat-lihat sekeliling kamar Eri,
pandangan Kuro tertuju pada sebuah buku kecil berwarna hijau, warna kesukaan
Eri. Ukuran buku itu tidak terlalu kecil, mirip seperti buku harian. Ketika
Kuro melihat halaman depannya tertulis “Eri Kawaguchi.” Nampaknya itu adalah
buku harian Eri. Sebenarnya Kuro tidak ingin melihat isi buku itu, tapi karena
rasa penasarannya ia pun melihat isi buku itu. Ia membacanya dari halaman per
halaman sampai pada akhirnya ia membaca sebuah bagian yang membuatnya tertarik.
Melihatmu
tertawa adalah hal terindah dalam hidupku
Apakah aku
tahu siapa dibalik tawamu?
Melihatmu
tersenyum seakan membuat hatiku sejuk
Apakah aku
tahu apa makna dibalik senyummu?
Aku berharap
kamu tetap seperti ini, tertawa dan tersenyum
Aku hanya
ingin terus melihat senyuman itu di wajahmu
Aku tidak
akan membiarkanmu melewati semuanya sendiri, aku akan menemanimu
Terus
disampingmu, aku akan terus menemanimu
Bahkan sampai
aku tidak bisa menemanimu lagi
“Eri…. Puisi ini… Apa kau menulisnya untukku?”
Kemudian Kuro menutup buku harian itu, ia tidak ingin
membacanya lagi dan sepertinya ia harus keluar dari kamar Eri sebelum Eri
terbangun. Ketika Kuro ingin menaruh selimut ke badan Eri, tiba-tiba Eri
berkata,
“Tetaplah
tersenyum, aku kan terus menemanimu Kuro.”
Mendengar itu, Kuro tiba-tiba tersenyum dan membelai rambut
Eri seraya berkata,
“Aku akan
terus tersenyum jika itu membuatmu bahagia, Eri.”
Kemudian Kuro keluar dari kamar Eri dan berjalan
menuju ruang tamu.
Bagaimanakah sebenarnya perasaan Eri kepada kuro? Apa
benar Eri menyukai Kuro? Lalu bagaimana dengan Kuro? Apa yang sebenarnya ia
rasakan? Perasaannya terhadap Eri, apa benar Kuro hanya menganggap Eri sahabat
saja? Apa Kuro masih percaya dengan cinta?