ADRIAN GUNANTA
1PA01 / 10513271
CINTA
KASIH MENURUT AGAMA DAN NEGARA
I. PENGERTIAN CINTA SECARA UMUM
Cinta adalah sebuah aksi/kegiatan aktif yang
dilakukan manusia terhadap objek lain, berupa pengorbanan diri, empati,
perhatian, kasih sayang, membantu, menuruti perkataan, mengikuti, patuh, dan
mau melakukan apa pun yang diinginkan objek tersebut.
II. PENGERTIAN CINTA KASIH MENURUT AGAMA
1. Menurut Agama Kristen
Cinta bisa terhadap siapapun (kepada Tuhan, orang
tua, sesama manusia dll). Bisa dilihat dalam kitab:
13:4. Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia
tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong.
13:5 Ia tidak melakukan yang tidak
sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak
menyimpan kesalahan orang lain.
13:6 Ia tidak bersukacita karena
ketidakadilan, tetapi karena kebenaran.
13:7 Ia menutupi segala sesuatu,
percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala
sesuatu.
5:44 Tetapi Aku berkata kepadamu:
Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.
12:29-31 Cintailah Tuhan Allahmu
dengan segenap hatimu. Cintailah sesama manusia seperti dirimu sendiri.
2. Menurut Agama Islam
Menurut Al-Qur’an cinta terbagi menjadi 8 jenis,
yaitu:
·
Cinta Mawaddah: yaitu cinta yang
menggebu-gebu dan membara. Orang yang
memiliki cinta jenis ini inginnya selalu berdua dan tak ingin berpisah. Selalu
ingin memuaskan dahaga cintanya bahkan hampir tidak bisa berfikir yang lain.
·
Cinta Rahmah: yaitu cinta yang penuh
akan kasih sayang, pengorbanan dan perlindungan. Orang yang memiliki cinta ini
akan lebih memikirkan orang yang dicintainya daripada dirinya sendiri.
Dipikirannya yang penting adalah kebahagiaan sang kekasih meskipun ia harus
menderita.
·
Cinta Mail: yaitu cinta yang sementara
sangat membara. Dan sangat menyedot perhatian tanpa memperhatikan hal-hal
penting lainnya. Menurut Al-Qur’an disebut juga dalam konteks poligami. Karna
ketika sedang jatuh cinta kepada yang muda akan cenderung mengabaikan yang
lama.
·
Cinta Syaghaf: yaitu cinta alami yang
sangat mendalam dan sangat memabukkan. Orang yang terkena cinta ini akan
seperti orang gila, lupa diri bahkan tidak menyadari apa yang dilakukannya.
·
Cinta Ra’fah: yaitu rasa kasih sayang
yang melebihi norma kebenaran. Misalnya: karna rasa kasih sayang dan kasihan
yang berlebihan melihat anaknya tidur terlelap seorang bapak tidak tega dan
tidak jadi membangunkan anaknya untuk Sholat.
·
Cinta Shobwah: yaitu cinta buta, cinta
ini akan mendorong perilaku menyimpang dan tidak akan bisa mengelak.
·
Cinta Syauq (Rindu): yaitu pengembaraan
hati kepada kekasih dan kobaran cinta didalam hati sang pecinta.
·
Cinta Kulfah: yaitu perasaan cinta yang
disertai kesadaran akan hal-hal positif meski itu sulit.
3. Menurut Agama Hindu
Agama Hindu adalah agama Wahyu dan agama alami. Agama
yang berdasarkan, memiliki tujuan dan juga agama yang dijalankan di dalam Cinta
Kasih. Agama Hindu mementingkan pengembangan cinta kasih bukan hanya kepada
sesama umat manusia tetapi kepada sesama makhluk hidup. Cinta kasih kepada
sesama anggota keluarga, kepada sesama umat manusia tidak dipandang sebaga
cinta kasih yang istimewa. Kesadaran bahwa seluruh dunia adalah sebuah keluarga
besar sangat membantu orang untuk mengembangkan cinta kasih universal ini.
Dia adalah puncak cinta kasih di dunia ini,
merupakan landasan penting untuk mengembangkan Prema Bhakti atau cinta kasih
rohani kepada Tuhan yang Maha Esa. Cinta kasih universal dalam beberapa kitab
suci disebutkan sebagai ciri, hiasan dan sifat-sifat agung orang-orang suci
atau para Sadhu. Titiksavah karunikahsuhrdah sarva-dehinamajata-satravah
santahsadhavah sadhu-bhusanah
Ciri-ciri atau hiasan dari seorang Sadhu atau orang
suci adalah ia harus memiliki sifat-sifat senantiasa damai, memiliki toleransi
besar, penuh karunia, bersifat berteman dengan seluruh makhluk hidup, tidak
mempunyai musuh, hidupnya selalu didasarkan pada kitab suci dan segala
kepribadiannya terpuji. Yajur Veda juga menegaskan hal yang sama:mitrasya ma
caksusa sarvani bhutani samiksantamamitrasyaham caksusa sarvani bhutani
samiksemitrasya caksusa samiksyamahe “Semoga semua makhluk hidup melihatku
dengan pandangan sebagai teman, semoga aku melihat semua makhluk hidup dengan
pandangan sebagai seorang teman, semoga kami melihat satu sama lainnya dengan pandangan
sebagai seorang teman.”
4. Menurut Agama Buddha
Nikaya Pali
juga memuat satu kata cinta yang berbeda dengan cinta yang telah disebutkan di
atas, cinta kasih yang dipancarkan secara universal (tak terbatas) kepada semua
makhluk dan cinta kasih yang tanpa pamrih, yaitu: Metta.
Metta adalah bagian pertama dari empat kediaman
luhur (Brahma Vihara) atau empat keadaan yang tidak terbatas (Apamanna). Bagian
lainnya, yaitu Karuna (kasih sayang), Mudita (simpatik), dan Upekkha
(keseimbangan batin).
Metta adalah rasa persaudaraan, persahabatan,
pengorbanan, yang mendorong kemauan baik, memandang makhluk lain sama dengan
dirinya sendiri. Metta juga suatu keinginan untuk membahagiakan makhluk lain
dan menyingkirkan kebencian (dosa) serta keinginan jahat (byapada).
Metta berbeda dengan piya, pema, rati, kama, tanha,
ruci dan sneha yang hanya menimbulkan nafsu dan kemelekatan. Pengembangan Metta
dapat mengantarkan kita pada pencapaian kedamaian Nibbana (Mettacetto vimutti),
seperti yang dinyatakan Sang Buddha dalam Dhammapada 368:
“Apabila seorang bhikkhu hidup dalam cinta kasih dan
memiliki keyakinan terhadap Ajaran Sang Buddha, maka ia akan sampai pada
Keadaan Damai (Nibbana), berhentinya hal-hal yang berkondisi (sankhara)”
III. PENGERTIAN CINTA KASIH MENURUT NEGARA
Cinta kasih menurut negara adalah,kita
rela melakukan apa saja demi kemerdekaan dan mempertahankan kemerdekaan yang
sudah kita genggam selama ini. Dan tak lupa kita sebagai warga negara yang
bijak dan taat kita harus melakukan semua kewajiban kita. Dan kita pun haru
menggunakan hak kita sewajarnya sebagai warga negara Indonesia yang baik.
IV. CONTOH KASUS
Disini saya mengambil contoh mengenai konflik agama
antara tahun 1998 hingga 2006. Jejak-jejak kerusuhan di sejumlah tempat di Poso,
Sulawesi Tengah, yang terjadi mulai pengujung 1998 hingga 2006 itu hampir tak
lagi berbekas dalam keseharian warga. Memang masih ada sisa-sisa bangunan rumah
ibadah dan rumah penduduk yang hancur akibat kerusuhan, tetapi itu dianggap
sebagai masa lalu yang harus ditutup. Harmoni yang telah kembali itu sungguh
terasa bermakna. Komunitas Kristen dan Muslim pada akhirnya sadar bahwa mereka
bersaudara. Kekerabatan yang membuat mereka menikmati lese tuwu mombepomawa
alias damai itu indah tak seharusnya tercabik-cabik.
V. PEMBAHASAN
Dari contoh yang saya ambil tersebut terlihat bahwa
penyelesaian konflik adalah dengan cara kekeluargaan atau musyarawah. Kasus
konflik antar dua agama di Poso ini harus kita jadikan pelajaran, mereka yang
pemikirannya belum seperti kita orang yang tinggal di ibu kota tetapi mereka
bisa duduk manis dan menyelesaikan konflik dengan musyawarah. Menurut saya hal
tersebut terjadi karena adanya cinta kasih diantara mereka. Mereka bisa
berfikir untuk ke depan, untuk anak-anak serta cucu mereka nantinya. Apakah
anak-anak serta cucu mereka harus seperti mereka meneruskan konflik atau
anank-cucu mereka harus hidup damai berdampingan. Mereka lebih memilih untuk
anak-cucu mereka hidup berdampingan dengan damai dan cinta kasih diantara
mereka. Cinta kasih tidaklah memilih dan tidak membutuhkan alasan. Cinta kasih
disini bukan berarti mencintai pasangan, namun lebih ke teman. Saya berteman
dengan Salman yang notabene bukan seagama dengan saya, saya bisa akrab
dengannya. Kami saling membantu satu dengan yang lain. Cinta kasih yang tidak
memandang siapa dirinya, dari mana asalnya dan apakah dia kaya atau tidak..
SUMBER