Wednesday, April 6, 2016

Psikoterapi "Behaviour"

BEHAVIOUR THERAPY

1. Konsep Utama
            Terapi perilaku (behavior therapy) dan pengubahan perilaku (behavior modification) atau pendekatan behavioristik dalam psikoterapi, adalah salah satu dari beberapa “revolusi” dalam dunia pengetahuan psikologi, khususnya psikoterapi. Pendekatan behavioristik ini banyak dipergunakan dalam rangka melakukan kegiatan psikoterapi yang bersumber pada aliran behaviorisme. Aliran ini pada awalnya tumbuh di Amerika dengan tokoh pelopornya yaitu John Broadus Watson. Behaviorisme merupakan suatu aliran yang menitikberatkan peranan lingkungan, peranan dunia luar sebagai faktor penting dimana seseorang dipengaruhi, seseorang belajar. Aliran ini memandang perkembangan seseorang sebagai “seseorang tumbuh menjadi seperti apa yang terbentuk oleh lingkungan” (“man grows to be what he is made to be by his environtment”). Munculnya aliran ini berasal dari orientasi pemikiran filsafat pada abad-abad yang lalu.
            Pendekatan behavioristik tidak menguraikan asumsi-asumsi filosofis tertentu tentang manusia secara langsung. Setiap orang dipandang memiliki kecenderungan-kecenderungan positif dan negatif yang sama. Manusia pada dasarnya dibentuk dan ditentukan oleh lingkungan sosial budayanya, tingkah laku manusia itu dipelajari. Jadi, behaviorisme berfokus pada bagaimana orang-orang belajar dan kondisi-kondisi apa saja yang menentukan tingkah laku individu.
2. Terapi Perilaku
           Sebagai salah satu teknik psikoterapi, terapi perilaku relatif masih sangat muda, baru dipergunakan sekitar 30 tahun yang lalu. Di dalam perkembangannya, terapi peilaku sebagai metode yang dipakai untuk mengubah perilaku atau dalam arti umumnya sebagai salah satu dari teknik psikoterapi, menurut Corey (1991) terdiri dari tiga tahap:
a. Tahap pertama adalah tahap kondisioning klasik (Classical Conditioning)
            Yaitu perilaku yang baru dihasilkan dari individu secara pasif. Tokohnya adalah Pavlov, A. Lazarus dan Eysenck.
b. Tahap kedua adalah tahap kondisioning aktif (Operant Conditioning)
            Dimana perubahan-perubahan di lingkungan terjadi akibat sesuatu perilaku, bisa berfungsi sebagai penguat-ulang (reinforce) agar perilaku bisa terus diperlihatkan, sehingga perilaku tersebut akan semakin menguat. Tokohnya adalah Skinner.

c. Tahap ketiga adalah tahap kognitif.
            Awalnya terapi perilaku mengesampingkan tentang konsep berpikir, konsep sikap, dan konsep nilai. Namun, terjadi perubahan pada sekitar tahun 70-an ketika peranan berpikir (kognisi) diperhatikan dan ikut berperan baik dalam proses pemahaman maupun perlakuan terhadap pasien.
3. Teknik-Teknik Utama Terapi Tingkah Laku

a. Desentisisasi Sistematik
              Desentisisasi sistematik diperkenalkan secara resmi oleh Wolpe pada sekitar tahun 1958, namun dasar klinisnya sebenarnya berakar dari penelitian yang dilakukan oleh Mary Cover Jones pada tahun 1924. Desentisisasi sistematik adalah salah satu teknik yang paling luas digunakan dalam terapi tingkah laku. Desentisisasi sistematik digunakan untuk menghapus tingkah laku yang diperkuat secara negatif, dan ia menyertakan pemunculan tingkah laku atau respons yang berlawanan dengan tingkah laku yang hendak dihapuskan itu. Desentisisasi sistematik juga melibatkan teknik-teknik relaksasi. Klien dilatih untuk santai dan mengasosiasikan keadaan santai dengan pengalaman-pengalaman pembangkit kecemasan yang dibayangkan atau yang divisualisasi. Situasi-situasi dihadirkan dalam suatu rangkaian dari yang sangat tidak mengancam ke yang sangat mengancam. Desentisisasi sistematik adalah teknik yang cocok untuk menangani fobia-fobia. Teknik ini bisa diterapkan secara efektif pada situasi penghasil kecemasan, mencakup situasi interpersonal, ketakutan menghadapi ujian, ketakutan-ketakutan yang digeneralisasi, kecemasan-kecemasan neurotik, serta impotensi dan frigiditas seksual.
b. Terapi Implosif dan Pembanjiran
             Teknik ini terdiri atas pemunculan stimulus berkondisi secara berulang-ulang tanpa pemberian penguatan. Teknik ini tidak menggunakan pengkondisian balik maupun tingkatan kecemasan. Terapis memunculkan stimulus-stimulus penghasil kecemasan, klien membayangkan situasi, dan terapis berusaha mempertahankan kecemasan klien. Stampfl (1975) mengembangkan teknik yang berhubungan dengan teknik pembanjiran yang disebut “terapi impolsif”. Terapi impolsif berasumsi bahwa tingkah laku neurotik melibatkan penghindaran terkondisi atas stimulus-stimulus penghasil kecemasan. Alasan yang digunakan oleh teknik ini adalah bahwa jika seseorang secara berulang-ulang dihadapkan pada suatu situasi penghasil kecemasan dan konsekuensi yang menakutkan tidak muncul, maka kecemasan akan tereduksi atau terhapus.
c. Latihan Asertif
              Pendekatan behavioral yang dengan cepat mencapai popularitas adalah latihan asertif yang bisa diterapkan terutama pada situasi-situasi interpersonal dimana individu mengalami kesulitan untuk menerima kenyataan bahwa menyatakan atau menegaskan diri adalah tindakan yang layak atau benar. Latihan asertif akan membantu bagi orang-orang yang tidak mampu mengungkapkan kemarahan atau perasaan tersinggung, menunjukkan kesopanan dan selalu mendorong orang lain untuk mendahuluinya, memiliki kesulitan untuk mengatakan “tidak”, mengalami kesulitan untuk mengungkapkan afeksi dan respons-respons positif lainnya, merasa tidak punya hak untuk memiliki perasaan-perasaan dan pikiran-pikiran sendiri. Fokus latihan asertif adalah mempraktekkan, melalui permainan peran, kecakapan-kecakapan bergaul yang baru diperoleh sehingga individu diharapkan mampu mengatasi ketidakmemadaiannya dan belajar bagaimana mengungkapkan perasaan-perasaan dan pikiran-pikiran individu secara lebih terbuka disertai keyakinan bahwa individu berhak untuk menunjukkan reaksi yang terbuka.
d. Terapi Aversi
            Teknik-teknik aversi adalah metode-metode yang paling kontroversial yang dimiliki oleh para behavioris meskipun digunakan secara luas sebagai metode-metode untuk membawa orang-orang kepada tingkah laku yang diinginkan. Kondisi-kondisi diciptakan sehingga orang-orang melakukan apa yang diharapkan dari individu dalam rangka menghindari konsekuensi-konsekuensi aversif. Sebagian lembaga sosial menggunakan prosedur-prosedur aversif untuk mengendalikan para anggotanya dan untuk membentuk tingkah laku individu agar sesuai dengan yang telah digariskan. Dalam setting yang lebih formal, teknik-teknik aversif sering digunakan dalam penanganan berbagai tingkah laku yang maladaptif.
e. Peniruan Melalui Penokohan (Modelling)
              Penggunaan teknik penokohan dalam terapi perilaku telah dimulai pada akhir tahun 50-an, meliputi tokoh yang nyata, tokoh yang dilihat melalui film atau tokoh dalam imajinasi (imajiner). Tokoh yang telah banyak melakukan penelitian mengenai proses dan prosedur peniruan adalah Albert Bandura yang terkenal dengan social learning theory. Penokohan merupakan istilah umum untuk menunjukkan terjadinya proses belajar melalui pengamatan dari orang lain dan perubahan yang terjadi karenanya melalui peniruan. Teknik peniruan melalui penokohan, dapat dipakai untuk menghadapi pasien atau klien yang menderita fobia, penderita ketergantungan obat dan alkohol, bahkan dapat dipakai untuk menghadapi penderita dengan gangguan kepribadian yang berat seperti psikosis, khususnya agar memperoleh keterampilan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
f. Pengondisian Operan
              Tingkah laku operan adalah tingkah laku yang memancar yang menjadi ciri organisme aktif. Tingkah laku operan merupakan tingkah laku yang paling berarti dalam kehidupan sehari-hari. Menurut Skinner (1971), jika tingkah laku diganjar maka probabilitas kemunculan kembali tingkah laku tersebut di masa mendatang akan tinggi. Prinsip perkuatan yang menerangkan pembentukan, pemeliharaan, atau penghapusan pola-pola tingkah laku merupakan inti dari pengondisian operan.
4. Tujuan Terapi Behaviour
           Tujuan umum terapi tingkah laku adalah untuk menciptakan kondisi-kondisi baru bagi proses belajar, penghapusan hasil belajar yang tidak adaptif, memberi pengalaman belajar yang adaptif namun belum dipelajari, membantu klien membuang respons-respons lama yang merusak diri atau maladaptif dan mempelajari respons-respons yang baru yang lebih sehat dan sesuai. Dasar alasannya ialah bahwa segenap tingkah laku adalah dipelajari (learned) termasuk tingkah laku yang maladaptif.

5. Peranan Konselor
           Peran konselor dalam konseling behavioral adalah aktif, direktif, dan menggunakan pengetahuan ilmiah untuk menemukan solusi dari persoalan individu. Konselor behavioral biasanya berfungsi sebagai guru, pengarah, dan para ahli yang mendiagnosa tingkah laku yang maladaptif dan menentukan prosedur yang mengatasi persoalan tingkah laku individu. Dalam proses konseling, konseli yang menentukan tingkah laku apa (what) yang akan diubah, sedangkan konselor menentukan cara apa yang digunakan untuk mengubahnya. Selain itu, konselor juga sebagai model bagi kliennya. Bandura mengatakan bahwa sebagian besar proses belajar terjadi melalui pengalaman langsung yang didapat melalui observasi langsung terhadap tingkah laku orang lain. Ia berpendapat bahwa dasar fundamental proses belajar tingkah laku adalah imitasi, dengan demikian, konselor adalah model signifikan bagi kliennya.

Daftar Pustaka

Corey, Gerald. (2005). Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi. Bandung: PT. Refika  Aditama.
Gunarsa, Singgih D. (2012). Konseling dan Psikoterapi. Jakarta: Libri.
Jones, N.R. (2011). Teori dan Praktik Konseling dan Terapi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Khairani, Makmun. (2014). Psikologi Konseling. Yogyakarta: CV. Aswaja Pressindo.

No comments:

Post a Comment